Orang Tua Rela Bayar KPR Demi Gen Z Punya Rumah Sendiri
Sorajabar.com - Generasi Z, atau Gen Z, yang lahir antara tahun 1997-2002, kini mulai memasuki usia produktif dan mapan secara finansial. Mereka adalah target utama pasar Properti sebagai pembeli rumah pertama. Namun, di tengah gempuran harga properti yang kian meroket dan kondisi ekonomi global yang tidak menentu, impian memiliki hunian pribadi bagi Gen Z seolah semakin jauh dari genggaman. Tak heran, banyak di antara mereka yang akhirnya memilih untuk menyewa atau mengontrak, karena terasa lebih realistis daripada harus terbebani cicilan KPR yang mencekik.
Kondisi ini ternyata memicu kekhawatiran besar di kalangan orang tua. Mereka melihat perjuangan anak-anaknya untuk memiliki tempat tinggal yang layak di masa depan. Kegelisahan inilah yang kemudian melahirkan sebuah tren menarik dan cukup mengejutkan: para orang tua kini rela "turun gunung" untuk membantu anak-anak mereka memiliki rumah, bahkan sampai membayarkan cicilan KPR!
Sebuah studi terbaru dari perusahaan jasa keuangan terkemuka, Northwestern Mutual, yang dilansir dari Fortune, mengungkapkan fenomena ini di Amerika Serikat. Survei online yang melibatkan lebih dari 4.300 responden pada Januari 2026 tersebut menunjukkan kepedulian finansial orang tua terhadap masa depan hunian anak-anak mereka. Hasilnya, sebanyak 52 persen orang tua menyatakan sangat terbuka untuk memberikan bantuan agar anak mereka bisa membeli rumah impian.
Yang lebih mencengangkan, 22 persen responden orang tua bahkan mengaku sudah secara aktif membantu, termasuk dengan membayarkan cicilan KPR sesuai tenornya. Tren ini semakin menegaskan betapa krusialnya peran keluarga dalam mengatasi tantangan properti bagi generasi muda saat ini. Ed Amos, seorang penasihat manajemen kekayaan di Northwestern Mutual, menyoroti bahwa Gen Z berada dalam kondisi genting. Total kekayaan mereka jauh tertinggal dibandingkan generasi orang tua mereka, yakni Baby Boomer dan Generasi X.
Menariknya lagi, survei tersebut juga mengungkap pergeseran prioritas. Sebanyak 29 persen orang tua justru lebih memilih untuk membantu anaknya memiliki rumah daripada membiayai pendidikan tinggi di universitas ternama. Sementara itu, 55 persen responden menganggap kepemilikan rumah dan pendidikan sama pentingnya. Amos menambahkan, "Banyak dari gelar-gelar ini mungkin tidak lagi seberharga dan sepenting dulu," yang mengindikasikan adanya pandangan baru terhadap nilai investasi masa depan.
Mengapa Gen Z Sulit Punya Rumah Sendiri?
Faktor-faktor yang membuat Gen Z kesulitan memiliki rumah sangatlah kompleks. Pertama, jurang kekayaan antar generasi sangat lebar. Data Federal Reserve menunjukkan bahwa Generasi Baby Boomer di AS memiliki aset lebih dari US$ 86 triliun, menjadikannya generasi terkaya. Disusul oleh Generasi X dengan aset mencapai US$ 44 triliun. Angka ini sangat kontras dengan total kekayaan yang dimiliki Gen Z saat ini.
Kedua, kondisi ekonomi global yang tidak stabil turut memperparah keadaan. Lonjakan harga bensin, bahan pokok, dan biaya hidup lainnya membuat pengeluaran semakin membengkak, menyisakan sedikit ruang untuk menabung guna uang muka atau cicilan rumah. Dahulu, usia rata-rata pembeli rumah pertama berada di rentang 30-an tahun, namun kini, satu dekade kemudian, usia rata-rata tersebut telah bergeser ke 40-an tahun, menunjukkan semakin lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kemapanan finansial.
Ketiga, dan mungkin yang paling dominan, adalah harga rumah yang terus melonjak secara signifikan. Di AS, harga rata-rata rumah saat ini mencapai lebih dari US$ 410 ribu, atau sekitar Rp 6,9 miliar (dengan kurs Rp 16.956). Angka ini tentu sangat fantastis dan sulit dijangkau oleh sebagian besar Gen Z, bahkan yang sudah memiliki pekerjaan mapan sekalipun.
Amos memprediksi bahwa masalah ini akan semakin parah di masa depan. "Akses bagi karyawan tingkat pemula yang baru lulus kuliah dan ingin membeli rumah pertama mereka angkanya semakin berkurang," ujarnya. Ia menyimpulkan, "Kini, semakin sulit bagi generasi muda terutama Gen Z untuk membeli rumah dengan melakukannya sendiri." Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, namun juga berpotensi merefleksikan tantangan serupa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, di mana harga properti di kota-kota besar terus menanjak.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar