Masjid Al Istiqomah Pangandaran Simbol Keteguhan Wakaf Susi
Sorajabar.com - Setiap pelancong yang menginjakkan kaki di kawasan Wisata Pangandaran pasti akrab dengan siluet megah sebuah masjid yang kubah dan menaranya menjulang tinggi. Seolah menjadi penanda tak tertulis bahwa Anda telah tiba di gerbang destinasi pesisir selatan Jawa Barat yang memesona ini. Dialah Masjid Besar Al Istiqomah, yang dulunya dikenal sebagai Masjid Agung Pangandaran, berdiri kokoh dan memancarkan pesonanya tepat di jalur utama, berdampingan akrab dengan Bundaran Marlin yang ikonik.
Letaknya yang sangat strategis membuat masjid ini jauh lebih dari sekadar sebuah rumah ibadah biasa. Bagi ribuan wisatawan dan warga lokal, Masjid Al Istiqomah adalah titik temu yang nyaman, tempat singgah yang menenangkan, sekaligus ruang rehat yang sangat dibutuhkan setelah atau sebelum menempuh perjalanan panjang. Namun, di balik kemegahannya yang kini dilapisi batuan granit modern dan halaman yang luas, tersimpanlah sebuah kisah perjuangan, ketulusan wakaf, dan peristiwa heroik yang mungkin belum banyak diketahui publik.
Sejarah Mulia di Balik Megahnya Masjid Al Istiqomah
Kemegahan Masjid Besar Al Istiqomah tidak berdiri begitu saja. Pondasinya dibangun di atas sebuah amanah yang sangat mulia: sebidang tanah wakaf seluas lebih dari 5.000 meter persegi. Tanah ini diwakafkan oleh sosok yang tak asing lagi, yaitu orang tua dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Ibu Susi Pudjiastuti. H. Ahmad Karlan dan Hj. Suwuh Lasminah, nama-nama yang kini terukir dalam sejarah, dengan keikhlasan yang luar biasa, mewakafkan lahan tersebut sepenuhnya demi kepentingan ibadah dan kemaslahatan umat.
Pembangunan masjid bersejarah ini dimulai pada tahun 1974, di bawah pengelolaan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Sejak awal perintisannya, orang tua Ibu Susi memainkan peran sentral dan krusial dalam mewujudkan berdirinya masjid agung yang kini menjadi kebanggaan Pangandaran ini. Dedikasi dan visi mereka menjadi dasar bagi keberadaan sebuah pusat spiritual yang kelak akan menjadi saksi banyak peristiwa.
Kiai Majid Murdiansah, selaku Sekretaris Umum DKM Masjid Besar Al Istiqomah, membenarkan dan menguatkan sejarah berharga ini. "Masjid ini berdiri tahun 1974. Bangunan, halaman, taman, hingga area parkir merupakan tanah wakaf dari kakek dan orang tua Ibu Susi. Luasnya memang mencapai 5.000 meter persegi lebih," ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu. Pernyataan ini menegaskan betapa besar dan tulusnya kontribusi keluarga Ibu Susi terhadap pembangunan infrastruktur keagamaan di Pangandaran.
Benteng Harapan Saat Tragedi Tsunami Pangandaran 2006
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Besar Al Istiqomah juga adalah saksi bisu sekaligus benteng penyelamat dalam salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Pangandaran. Pada tahun 2006, ketika gelombang tsunami menerjang pesisir selatan Jawa Barat dengan dahsyat, masjid ini berubah menjadi lokasi evakuasi utama dan simbol harapan di tengah kepanikan warga yang berjuang menyelamatkan diri dari ancaman ombak raksasa.
"Tahun 2006, masjid ini menjadi saksi bisu ketegangan dan ketakutan warga. Meski jaraknya sekitar 1,8 kilometer dari bibir pantai, tempat ini terbukti aman dari jangkauan gelombang tsunami sehingga menjadi area penyelamatan yang luas," kenang Kiai Majid dengan nada haru. Di tengah sirene yang meraung dan kepanikan massal, ratusan warga berlarian menuju lantai dua masjid. Tangga-tanggal dipenuhi oleh orang-orang yang menggenggam erat anak-anak mereka, mencari perlindungan di setiap sudut yang dirasa aman. Ruang utama yang biasanya hening untuk salat, kala itu berubah fungsi menjadi tempat perlindungan darurat yang dipenuhi harapan.
Bahkan, area belakang masjid, yang kini difungsikan sebagai tempat wudu dan sanitasi, pernah memiliki peran yang jauh lebih berat. Lokasi tersebut menjadi tempat pemandian jenazah korban tsunami. Beberapa jenazah bahkan sempat disemayamkan sementara di peti kemas milik Ibu Susi Pudjiastuti, sebelum akhirnya dimakamkan dengan layak. Kisah ini menjadi pengingat abadi akan peran krusial masjid ini dalam momen paling kritis bagi masyarakat Pangandaran.
Lebih dari Sekadar Rumah Ibadah Wajah Spiritual Pangandaran
Kini, Masjid Al Istiqomah kembali berdiri dalam suasana damai, memancarkan kedamaian dan spiritualitas. Setiap bulan Ramadan tiba, lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema dari pagi hingga malam, mengisi setiap sudut masjid dengan nuansa kekhusyukan. Para siswa, santri, dan kelompok kajian agama memadati saf-saf masjid untuk mengikuti kegiatan tadarus, tausiah, hingga program hafalan Al-Qur'an yang diasuh oleh Ustaz Al Imron Rosyadi dan para pengajar lainnya.
Bagi Kiai Majid, keberadaan masjid ini jauh melampaui fungsinya sebagai bangunan ibadah semata. "Masjid ini adalah 'candradimuka' atau wajah pariwisata Pangandaran. Letaknya di jalur utama menjadikannya tempat singgah favorit wisatawan, sekaligus cerminan spiritualitas kota ini," pungkasnya. Masjid ini bukan hanya melayani kebutuhan rohani, tetapi juga menjadi duta pertama yang menyambut para tamu yang datang, memberikan kesan pertama tentang Pangandaran yang relijius dan ramah.
Dari tanah wakaf yang tulus ikhlas, diuji oleh dahsyatnya bencana besar, hingga kini berdiri sebagai simbol keteguhan dan wajah yang menyambut setiap insan, Masjid Besar Al Istiqomah adalah monumen hidup yang kaya akan makna. Ia adalah penanda keimanan, saksi sejarah, dan bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat serta pariwisata Pangandaran. Sebuah permata spiritual di selatan Jawa Barat yang patut untuk dikunjungi dan direnungi kisahnya.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar