Longsor Cisarua Bandung Barat: Tiga Kampung Rata Tanah, Ini Upaya Pemulihan
Sorajabar.com - Kabupaten Bandung Barat kembali berduka. Tepat sebulan lalu, pada 24 Januari 2026 dini hari, sebuah bencana longsor dahsyat melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Kejadian tragis ini menyisakan luka mendalam bagi warga, dengan tiga kampung yang kini rata dengan tanah, mengubah pemandangan asri kaki Gunung Burangrang menjadi lautan bebatuan dan lumpur kering.
Longsor masif ini tak main-main. Luas area terdampak mencapai sekitar 26 hektare, dengan panjang aliran longsor dari mahkota di puncak Gunung Burangrang hingga lidah longsor di Kampung Pasir Kuda membentang sejauh 2.009 meter atau sekitar 2 kilometer. Sebuah skala bencana yang mengerikan, meninggalkan kesunyian dan pemandangan yang mengusik mata. Bebatuan raksasa dan lumpur yang mengering menjadi saksi bisu dari kekuatan alam yang merenggut segalanya dalam sekejap.
Upaya Pemulihan Lingkungan: Drone Sebar Benih, Mencegah Bencana Susulan
Melihat kondisi kritis ini, pemerintah tidak tinggal diam. Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Ade Zakir, mengungkapkan bahwa rencana penghijauan lahan bekas longsor telah dimulai. Sejak Jumat pagi, benih-benih tanaman mulai disebar menggunakan drone dari provinsi. Langkah ini krusial untuk mencegah longsor susulan, mengingat bahaya tanah gundul pasca-bencana. Penanaman kembali diharapkan dapat mengembalikan fungsi tanah sebagai penahan air dan pengikat struktur tanah.
Sinergi multi-pihak menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Daerah KBB bersepakat untuk menanam tanaman keras di area terdampak. "Jadi memang arahan dari Pak Menteri LH, Pak Menteri Pertanian, dan Pak Gubernur memang sepakat untuk penghijauan," ujar Ade Zakir, menegaskan komitmen bersama. Program penghijauan ini bukan hanya sekadar penanaman, tetapi juga upaya jangka panjang untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mitigasi bencana di masa depan, terutama di lereng Gunung Burangrang yang rentan.
Nasib Warga Terdampak: Antara Harapan dan Ketidakpastian
Di balik upaya pemulihan lingkungan, ada cerita pilu dari ratusan warga yang kehilangan segalanya. Tak hanya rumah, lahan pertanian hingga greenhouse yang menjadi sumber mata pencarian utama mereka juga ikut ludes ditimbun longsor. Pemerintah kini masih terus membahas solusi penggantian lahan pertanian milik warga agar mereka dapat kembali bangkit dan menata masa depan.
Ide penukaran guling dengan tanah kas desa menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan secara serius. "Ya soal itu kita berharap demikian (bisa ditukar guling dengan tanah kas desa), sehingga yang terdampak longsor kan dihijaukan, nah warga jadi menggarap tanah kas desa," terang Ade Zakir. Harapan besar tersemat pada solusi ini agar warga bisa kembali menata hidup dan mencari nafkah, memberikan secercah harapan di tengah keterpurukan.
Salah satu korban, Iman Rahmat, seorang petani sayuran dari Desa Pasirlangu, merasakan langsung dampak pahitnya. Lahan miliknya seluas 140 tumbak, lengkap dengan sertifikatnya, kini telah lenyap tertimbun. "Ya bingung, mau kerja apa lahannya habis. Belum ada (pembahasan soal penggantian), harapannya ya segera ada supaya bisa bekerja lagi," ungkap Iman dengan nada getir, mencerminkan kegelisahan banyak warga lainnya yang juga menanti kejelasan nasib mereka. Kehilangan mata pencarian menjadi beban berat yang harus segera ditemukan solusinya.
Bencana longsor di Pasirlangu adalah pengingat betapa rentannya kita terhadap kekuatan alam. Pentingnya mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi pelajaran berharga yang tidak boleh dilupakan. Semoga upaya pemulihan ini dapat berjalan lancar, membawa kembali harapan bagi warga Pasirlangu untuk bangkit dari keterpurukan dan membangun kembali kehidupan mereka.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar