Konflik Timur Tengah Bayangi Haji dan Umrah Indonesia: Ini Kata DPR
Sorajabar.com - Gejolak konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, kini tak hanya menjadi Berita di layar kaca, namun juga menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dampak eskalasi ini mulai terasa, membayangi kelancaran ibadah Haji dan Umrah yang menjadi dambaan jutaan jiwa.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq, turut menyoroti serius potensi gangguan perjalanan para jamaah Indonesia menuju Tanah Suci. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib ribuan jamaah umrah yang kini terhambat kepulangannya akibat gangguan penerbangan di sejumlah bandara penting di kawasan tersebut, seperti Jeddah, Dubai, dan Qatar. Maman sendiri, sebagai anggota Panitia Kerja (Panja) Haji, dijadwalkan akan berangkat ke Tanah Suci pada akhir Maret. Ia berharap situasi segera kondusif agar ibadah dapat berjalan lancar.
Ribuan Jamaah Umrah Terlantar, DPR Bergerak
Situasi ini bukanlah isapan jempol belaka. Maman Imanulhaq membeberkan bahwa ada ribuan jamaah umrah Indonesia yang terdampak langsung. "Hari ini juga kami di DPR sedang menyelesaikan jamaah umrah yang tidak bisa pulang gara-gara tersendat di bandara-bandara, termasuk di Jeddah, di Dubai dan juga di Qatar," ujarnya.
Musim umrah Ramadan, yang biasanya dipadati jamaah, justru menjadi periode krusial saat ini. Maman menyebutkan, "Saya hari ini menangani, alhamdulillah kemarin jamaah dari Malang lalu dari beberapa tempat lain, itu lumayan sekitar 5.000 jamaah." Jumlah ini tentu belum termasuk jamaah lain yang mungkin mencari bantuan melalui jalur berbeda. Kondisi ini menunjukkan betapa masifnya Dampak Konflik global terhadap mobilitas keagamaan.
Bukan hanya soal biaya yang membengkak akibat tertundanya kepulangan, Maman mengingatkan bahwa ada risiko yang lebih besar. "Bukan soal biaya lagi. Itu yang akan disebut nanti manistatho'a ilaihi sabila. Jangan-jangan kita tidak bisa berangkat karena ada halangan di jalannya," ucapnya, merujuk pada salah satu syarat ibadah haji.
Lebih dari Sekadar Penerbangan: Ancaman Krisis Energi dan Kedamaian Ramadan
Maman menilai bahwa langkah yang bisa dilakukan saat ini bukan hanya bersifat teknis, melainkan juga melalui upaya diplomasi internasional yang kuat, diiringi doa-doa agar konflik segera mereda. Namun, ia menyayangkan sulitnya menghentikan 'kegilaan' beberapa negara besar yang seolah abai terhadap seruan dunia.
Dampak konflik global ini bahkan sudah terasa hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. "Terlihat sekali dampaknya. Setiap hari dari berita saja masyarakat yang seharusnya menikmati Ramadan, ini malah seperti menikmati perang. Sampai semua hapal. Biasanya kita tahu harga sembako naik, sekarang orang tahu berapa harga rudal Fatah, berapa harga kapal induk Abraham Lincoln dan sebagainya," ungkap Maman.
Situasi ini membuat nuansa Ramadan terasa berbeda, di mana perhatian masyarakat tersedot oleh kabar perang yang terus berkembang. "Literasi Ramadan macet sama sekali gara-gara perang. Padahal Ramadan seharusnya momentum meningkatkan ibadah dan kedamaian," tambahnya.
Seruan Perdamaian dan Doa untuk Indonesia
Lebih jauh, Maman mengingatkan bahwa situasi perang di Timur Tengah harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia, terutama terkait sektor energi dalam negeri. "Termasuk kita pun meminta para pemimpin kita untuk lebih fokus bekerja, terutama akses dari peristiwa perang di Timur Tengah. Karena cadangan energi kita hanya 22 hari. Kalau seandainya perang berkelanjutan, maka ini perlu ada antisipasi dari pemerintah dan juga edukasi kepada masyarakat untuk tidak menghabiskan energi," jelasnya.
Ancaman yang lebih mengerikan adalah jika Selat Hormuz benar-benar dikuasai Iran dan pasokan 20 persen energi dunia terhenti, yang akan menimbulkan efek besar bagi Indonesia.
Dalam suasana prihatin ini, jamaah dan keluarga besar Ponpes Al-Mizan Jatiwangi, tempat Maman Imanulhaq mengabdi sebagai pengasuh, memanjatkan untaian doa. Mereka mendeklarasikan seruan 'Stop Perang' sebagai bentuk kepedulian. Mereka juga memanjatkan doa khusus untuk Indonesia agar senantiasa diberikan ketenangan, kedamaian, dan ketenteraman di tengah gejolak global.
"Ini adalah imbauan dari kami masyarakat jamaah semuanya untuk hentikanlah perang itu. Harus ada kelegowoan terutama dari negara-negara besar untuk memahami bahwa sesungguhnya kedaulatan sebuah negara tidak boleh diganggu seenaknya," pungkasnya.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar