Kisah Meiliana Bangkit dari Depresi dengan Doodle Mandala
Sorajabar.com - Isu Kesehatan Mental semakin menjadi sorotan utama di era modern ini. Tekanan hidup, tuntutan pekerjaan, dan ketidakpastian ekonomi tak jarang memicu stres, kecemasan, bahkan depresi berat. Di tengah tantangan tersebut, kisah inspiratif Meiliana Budhianto Dian, seorang instruktur Art Therapy asal Bandung, hadir sebagai secercah harapan. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi jembatan menuju pemulihan dan kesejahteraan mental.
Perjuangan Melawan Kegelapan Depresi
Meiliana Budhianto Dian bukan hanya sekadar seorang seniman, namun juga penyintas yang pernah berjuang melawan depresi berat. Ia mengalami apa yang disebut high function depression, di mana seseorang tetap mampu menjalani aktivitas sehari-hari dan bahkan bekerja dengan baik, namun batinnya kosong dan hancur lebur. "Awalnya gini, sebetulnya awalnya saya doodling bukan karena niat, bukan karena mencari duit. Karena hidup saya berantakan. Jadi, semua orang punya cobaan sendiri-sendiri. Nah, kebetulan pada saat itu saya mengalami yang namanya nabrak tembok dan hancur lembur lah. Secara mental, mungkin kalau didiagnosa high function depression," kenangnya.
Kondisi ini membuat emosi Meiliana tidak stabil, kekuatannya runtuh, dan hidupnya terasa berantakan. Meski tampak baik-baik saja dari luar, konsultasi dengan psikolog mengungkap komplikasi masalah yang mendalam. Perasaan hampa terus menghantui, bahkan saat ia menjalankan profesinya sebagai pengajar. Titik terendah ini menjadi pendorong baginya untuk mencari cara memulihkan diri.
Menemukan Cahaya dalam Seni Doodle Mandala
Di tengah kegelapan, Meiliana menemukan sebuah metode sederhana namun transformatif: seni menggambar garis atau yang dikenal sebagai doodle mandala. Awalnya, ia menggambar hanya untuk dirinya sendiri, tanpa niat komersial atau mengajarkan. Ini adalah upaya murni untuk menyalurkan dan memproses emosi yang menumpuk.
"Jadi, saya depresi tapi saya masih bisa bekerja dengan baik, saya masih kerja. Saya masih ngajar dan lain sebagainya, tapi kosong saja dan bingung. Pada saat itulah saya mulai menggambar," ungkapnya. Secara mengejutkan, aktivitas doodling ini terbukti sangat efektif. Setiap goresan garis di atas kertas seolah menjadi pelepasan beban batin.
"Tadinya buat saya sendiri, gambar saja. Oh, ternyata buat aku efektif ya. Ketika aku gambar, aku release. Ketika aku gambar, aku release. Cukup efektif," tambahnya, menjelaskan bagaimana doodle mandala menjadi katarsis pribadinya.
Membagikan Kekuatan Seni Terapi ke Komunitas Bandung
Dampak positif yang dirasakan Meiliana mendorongnya untuk tidak menyimpan metode ini hanya untuk dirinya sendiri. Seorang rekan yang melihat kemahirannya menyarankan agar ia serius mengembangkan seni ini menjadi terapi untuk membantu orang lain. Terinspirasi oleh niat mulia, Meiliana memutuskan untuk memperdalam ilmunya hingga mengambil sertifikasi sebagai terapis.
"Karena it works for you. Ketika itu berhasil buat kamu, pasti ada deh di entah dunia bagian mana, Bandung bagian mana yang punya cerita sama dan butuh itu. Jadi, akhirnya aku coba diseriusin. Ambil certified therapist dan lain-lain. Habis itu mulailah sharing. Yuk, yang kira-kira mau buang sampah bareng-bareng ini," paparnya dengan semangat.
Melalui workshop dan kelas art therapy yang ia selenggarakan, Meiliana berupaya memasyarakatkan metode ini, terutama di Kota Bandung yang masih jarang menemui terapi seni serupa. Ia ingin membuka mata banyak orang bahwa ada jalan alternatif untuk menjaga dan memulihkan kesehatan mental.
Manfaat Doodle Mandala untuk Kesejahteraan Mental Anda
Doodle mandala bukan sekadar aktivitas seni, melainkan sebuah gerbang menuju koneksi diri yang lebih dalam dan pengelolaan emosi yang lebih baik. Beberapa manfaat utama dari terapi seni doodle mandala meliputi:
- Pelepasan Stres dan Kecemasan: Proses menggambar garis yang berulang dan fokus membantu menenangkan pikiran dan meredakan ketegangan.
- Saluran Emosi yang Aman: Memberikan ruang tanpa penghakiman untuk menyalurkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
- Peningkatan Fokus dan Mindfulness: Melatih konsentrasi dan membawa individu ke momen saat ini, menjauhkan dari pikiran yang mengganggu.
- Menghubungkan Kembali Identitas Diri: Seperti yang diungkapkan Meiliana, "Untuk reconnect sama diri, itu sesuatu." Proses menciptakan sesuatu dengan tangan sendiri dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan yang mendalam.
- Tidak Membutuhkan Skill Khusus: Siapa pun bisa mencoba doodle mandala, tidak peduli latar belakang seni mereka. Fokusnya adalah pada proses, bukan hasil akhir yang sempurna.
Kisah Meiliana Budhianto Dian adalah bukti nyata bahwa dari pengalaman pahit, bisa lahir Inspirasi dan kekuatan untuk membantu sesama. Terapi seni, khususnya doodle mandala, menawarkan jalan yang unik dan efektif untuk menjaga keseimbangan mental di tengah hiruk pikuk kehidupan.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar