Kisah Masjid Hijrah Hidayah di Kolong Tol Bandung yang Haru
Sorajabar.com - Di tengah hiruk pikuk Kota Bandung, tepat di bawah bayang-bayang beton Tol Buahbatu, terdapat sebuah kisah inspiratif yang bersemi. Sebuah masjid sederhana, terbuka, dan nyaris tanpa pintu, berdiri kokoh menjadi saksi bisu transformasi hidup seorang pria bernama Saepul Rohmat (46). Inilah Masjid Hijrah BJTB, oase di tengah kebisingan kota yang menyimpan perjalanan spiritual mendalam.
Bagi sebagian orang, lokasi ini mungkin terasa ganjil untuk sebuah tempat ibadah. Namun, bagi Saepul, masjid ini adalah monumen pengingat akan hidayah yang ia temukan setelah melalui badai kehidupan. Kisahnya bukan hanya tentang bangunan fisik, melainkan tentang kekuatan perubahan dan keikhlasan.
Titik Balik yang Mengguncang Jiwa
Masa lalu Saepul Rohmat jauh dari kesan religius. Sejak muda hingga memiliki dua anak, ia akui hidupnya diwarnai berbagai tabiat buruk yang tak kunjung ia tinggalkan. Perkelahian, kehidupan malam yang bising, semua itu tak pernah menjadi penghenti langkahnya. Saepul merasa nyaman dengan kehidupan yang saat itu ia anggap biasa saja, bahkan cenderung abai terhadap nilai-nilai agama.
Namun, takdir berbicara lain. Pada September 2021, dunia Saepul runtuh. Putra pertamanya meninggal dunia di usia 17 tahun, hanya beberapa jam sebelum merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman. Sebuah perayaan yang seharusnya penuh tawa berubah menjadi duka mendalam.
"Teman-temannya datang, tapi anak saya sudah jadi mayat," kenang Saepul lirih, suaranya dipenuhi getir kenangan.
Peristiwa memilukan itulah yang menjadi titik jera baginya. Selama berbulan-bulan, hidup Saepul terasa berhenti. Dari sana, ia memulai sebuah perjalanan baru: mendekat kembali kepada Tuhan. Ia belajar, merenung, dan bahkan menuliskan setiap kesalahan masa lalu, daftar ibadah yang ia tinggalkan, hingga nama orang-orang yang pernah ia sakiti, dalam sebuah catatan kecil yang tebal.
Masjid Hijrah: Berawal dari Niat Tulus
Dari percakapan dengan seorang teman, muncul gagasan sederhana namun kuat: membangun sebuah masjid sebagai wujud nyata niatnya untuk memperbaiki diri. Ide itu perlahan berkembang, hingga pada tahun 2022, Saepul mulai mencari lokasi yang tepat.
Pilihan mereka jatuh pada sebuah area kumuh di kolong tol Buahbatu. Tempat itu dulunya dipenuhi bedeng-bedeng sempit yang tersusun membentuk huruf L, gelap, bau, dan kerap menjadi lokasi maksiat.
"Orang normal juga nggak akan tertarik masuk ke sini. Kumuh," kata Saepul menggambarkan kondisi awal lokasi itu.
Di lokasi yang tak terpikirkan itulah, masjid pertama kali didirikan dengan ukuran mungil, sekitar 6x8 meter. Bangunannya sangat bersahaja, namun niatnya luar biasa. Fasilitasnya pun dibuat seadanya, cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi mereka yang ingin berwudu dan salat.
Oase Bagi Pengemudi Ojol dan Musafir
Seiring waktu, Masjid Hijrah BJTB mulai dikenal luas. Jemaah yang datang memiliki latar belakang beragam, namun mayoritas adalah para pengemudi ojek daring (ojol) yang mencari tempat melepas lelah di sela-sela mencari nafkah. Saepul sengaja menyediakan berbagai fasilitas agar mereka merasa diterima:
- Air minum gratis
- Tempat mengisi daya ponsel
- Area parkir yang aman
- Bahkan, tempat untuk sekadar beristirahat atau 'ngagoler' pun diberikan cuma-cuma.
Setiap akhir pekan, masjid ini juga rutin membagikan ratusan porsi makanan bagi para pengemudi ojol, yang berasal dari berbagai donatur seperti komunitas, alumni sekolah, hingga kelompok ibu-ibu yang tergerak untuk berbagi kebaikan.
Meski demikian, Saepul selalu menekankan satu hal penting kepada para jemaah: ketika azan berkumandang, mereka wajib menunaikan salat berjamaah.
Ramadan Penuh Berkah di Kolong Tol
Memasuki bulan Ramadan, denyut aktivitas di Masjid Hijrah semakin hidup. Menjelang waktu berbuka, jemaah mulai berdatangan untuk mengikuti iftar sederhana yang disiapkan di area masjid. Jika tidak ada donatur, Saepul dan pengurus lain tetap mengupayakan hidangan sederhana seperti bala-bala dan minuman hangat untuk berbuka bersama.
Suasana semakin khusyuk pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Sejumlah jemaah memilih menetap di masjid untuk menjalani iktikaf, memanjatkan doa sepanjang malam hingga menjelang sahur. Sebuah ruangan kecil yang sebelumnya digunakan sebagai area salat muslimah pun sementara dialihfungsikan menjadi tempat beristirahat bagi jemaah yang beriktikaf.
"Kalau sahur paling sedikit aja 16 orang," ujar Saepul.
Masjid ini juga menjadi tempat singgah yang strategis bagi para musafir. Lokasinya yang berada tepat di dekat Gerbang Tol Buahbatu menjadikan banyak orang berhenti sejenak untuk bersujud atau sekadar melepas penat perjalanan jauh mereka.
Pada hari raya Idulfitri, jemaah berkumpul untuk melaksanakan salat Id berjamaah. Setelah ibadah usai, pengurus biasanya membagikan paket sembako atau bingkisan sederhana kepada warga yang hadir, menyebarkan kebahagiaan di hari kemenangan.
Hidayah di Tengah Kebisingan
Meski tidak megah, Masjid Hijrah BJTB perlahan menjadi jantung yang hidup di tengah hiruk-pikuk jalan tol. Orang datang untuk bersujud, beristirahat, atau sekadar mencari ketenangan di tengah bisingnya dunia.
Bagi Saepul, suara kendaraan yang tak pernah berhenti di atas kepalanya justru menjadi pengingat abadi. Di tengah kebisingan itu, ia membuktikan bahwa hidayah bisa ditemukan di mana saja, bahkan di tempat yang paling tidak terduga sekalipun.
"Buat yang ingin belajar khusyuk, coba salat di sini sebulan," tantang Saepul. "Nanti kalau shalat di tempat yang sepi, rasanya jauh lebih tenang."
Kisah Masjid Hijrah BJTB adalah bukti bahwa dari titik terendah sekalipun, cahaya hidayah selalu bisa ditemukan, mengubah kegelapan menjadi harapan, dan kebisingan menjadi harmoni spiritual.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar