Harga Tahu di Bandung Meroket Akibat Konflik Global
Sorajabar.com - Di tengah kesibukan pagi di sentra tahu Cibuntu, Kota Bandung, asap tipis mengepul dari tungku-tungku besar. Aroma khas kedelai yang direbus menyatu dengan deru aktivitas para perajin yang cekatan mengaduk sari kedelai, menuangkannya ke cetakan, hingga memotongnya menjadi kotak-kotak putih siap jual. Namun, di balik rutinitas yang tampak normal ini, sebuah bayangan ancaman Ekonomi mulai membayangi: harga bahan baku, khususnya kedelai, yang terus melonjak tajam.
Kondisi ini bukan sekadar fluktuasi harga biasa. Para perajin kini harus berjibaku dengan kenyataan pahit, di mana biaya produksi kian membengkak dan menuntut mereka untuk memutar otak agar usaha tetap bertahan. Lonjakan ini berdampak langsung pada harga jual tahu, yang akhirnya juga akan dirasakan oleh konsumen setia produk olahan kedelai ini.
Mengapa Harga Kedelai Impor Mencekik Perajin Tahu?
Muhamad Zamaludin, salah satu perajin tahu di kawasan Cibuntu, tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga sudah mulai terasa dan dampaknya langsung terlihat pada harga jual. "Sekarang tahu mulai hari ini ada kenaikan harga. Dari harga Rp60 ribu per papan sekarang Rp62 ribu, naik Rp2 ribu," ujar Zamaludin saat diwawancarai, Selasa (31/3/2026).
Kenaikan ini, menurut Zamaludin, tak lagi bisa dihindari. Hampir semua komponen produksi mengalami lonjakan, terutama kedelai dan plastik pembungkus. Harga kedelai impor, yang menjadi tulang punggung produksi tahu di Indonesia, kini menembus angka yang jauh di atas batas normal. "Untuk bahan baku sekarang Rp10.600 - Rp10.700 per kilogram dari Amerika, kalau dari Kanada Rp10.300. Naiknya tinggi dari sebelum puasa, normalnya Rp8 ribu, sekarang Rp10 ribu lebih," jelasnya.
Faktor pemicu lonjakan harga ini ternyata tak hanya berasal dari dalam negeri. Zamaludin menyebut bahwa konflik global di Timur Tengah turut menjadi biang keladi. Dampaknya merembet hingga ke rantai pasok bahan baku di tingkat lokal, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan impor. "Ini karena dampak perang di Timur Tengah, ngaruh sekali karena seperti plastik, biji plastiknya dari luar. Kedelai juga impor dari Amerika, Kanada juga ada," tuturnya, menggambarkan betapa rumitnya jaringan ekonomi global yang saling terkait.
Dilema Perajin Tahu: Naikkan Harga atau Kurangi Ukuran?
Di bawah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, para perajin tahu di Cibuntu terpaksa harus memutar otak mencari strategi untuk bertahan. Pilihan yang ada cukup dilematis: menaikkan harga jual produk atau mengurangi ukuran tahu agar harga tetap kompetitif namun dengan margin keuntungan yang tipis. "Untuk sekarang ada yang naikan harga, ada yang dikurangi ukurannya. Untuk stok sendiri banyak, cuma harganya aja," kata Zamaludin.
Kondisi ini menciptakan sebuah tantangan besar. Meskipun stok kedelai masih tersedia, harga yang mahal membuat perajin harus berhitung cermat. Mereka khawatir, jika harga terus merangkak naik, konsumen akan berpikir dua kali sebelum membeli, yang berujung pada penurunan permintaan dan mengancam keberlangsungan usaha mereka.
Efek Domino Hingga ke Meja Makan Konsumen
Dampak kenaikan harga dari dapur produksi ini langsung menjalar hingga ke lapak pedagang eceran. Yanto, seorang pedagang tahu, mengaku sudah menerima penyesuaian harga baru dari pihak perajin. "Iya ada kenaikan, dari Rp60 ribu per papan, sekarang jadi Rp62 ribu," katanya.
Namun, kenaikan harga di tingkat produsen belum sepenuhnya direspons oleh pasar. Yanto masih menahan diri untuk tidak langsung menaikkan harga ke konsumen. Hal ini dilakukan untuk menjaga loyalitas pelanggan, meskipun rencana penyesuaian harga sudah sulit dihindari. "Harusnya naik juga. Tapi belum karena baru sekarang kan naiknya (dari perajin)," ujarnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Yanto mengaku tidak punya pilihan selain menyesuaikan harga jual. Dari semula Rp12 ribu per bungkus, kemungkinan besar akan naik menjadi Rp13 ribu. Prediksi yang lebih mengerikan, menurut Zamaludin, adalah jika harga bahan bakar minyak (BBM) ikut naik dalam waktu dekat. Biaya produksi dipastikan kembali membengkak dan berimbas langsung pada harga jual tahu di pasar, bahkan bisa mencapai Rp65 ribu per papan.
Situasi ini jelas menjadi perhatian serius bagi banyak pihak. Tahu, sebagai salah satu lauk pauk favorit dan sumber protein terjangkau, menjadi penanda sensitivitas Harga Pangan di tengah gejolak ekonomi global. Dukungan terhadap perajin lokal dan stabilitas pasokan bahan baku menjadi kunci agar tahu tetap bisa dinikmati di meja makan keluarga Indonesia.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar