x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?

Sorajabar.com - Kabar mengejutkan datang dari pasar komoditas global. Logam mulia yang selama ini dianggap sebagai 'safe haven' di kala krisis, yaitu Emas, justru mengalami keruntuhan harga yang signifikan. Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya akibat ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan konflik antara AS, Israel, dan Iran. Sepanjang pekan terakhir, harga emas dunia bahkan mencatat kinerja terburuk dalam 43 tahun terakhir, sebuah rekor yang terakhir terlihat pada tahun 1983.

Dilansir dari berbagai sumber, harga emas dunia anjlok sekitar 11% dalam sepekan terakhir. Angka ini merupakan kerugian terbesar sejak 1983. Jika dihitung sejak awal meningkatnya tensi geopolitik di kawasan tersebut, penurunan harga emas bahkan melampaui 14%. Ini tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi para investor dan pengamat Ekonomi: mengapa emas, yang seharusnya menguat di tengah krisis, justru melemah?

Mengapa Emas Justru Kehilangan Kilau di Tengah Badai Geopolitik?

Secara tradisional, emas selalu menjadi pilihan utama investor untuk melindungi nilai aset mereka saat inflasi melonjak, mata uang melemah, atau ketika krisis melanda. Logika ini didasarkan pada karakteristik emas sebagai aset fisik yang nilainya relatif stabil dan tidak terpengaruh langsung oleh kebijakan moneter suatu negara. Namun, skenario yang terjadi saat ini menunjukkan pola yang berbeda, dan beberapa faktor fundamental menjadi penyebab utamanya.

Salah satu pemicu utama adalah lonjakan harga energi akibat konflik yang berpotensi meluas. Kenaikan harga energi ini mendorong banyak bank sentral di seluruh dunia untuk kembali mengevaluasi prospek suku bunga. Kekhawatiran akan inflasi yang melonjak membuat mereka cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan. Pergerakan suku bunga inilah yang kemudian secara signifikan mempengaruhi daya tarik emas.

Peran Suku Bunga dan Dolar AS: Biang Kerok Tersembunyi

Kondisi geopolitik yang bergejolak, alih-alih melemahkan, justru memicu penguatan Dolar AS. Bagi investor internasional, penguatan Dolar berarti emas menjadi relatif lebih mahal. Hal ini secara otomatis mengurangi daya tarik emas sebagai Investasi.

Para pelaku pasar kini memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan tingkat suku bunga stabil sepanjang tahun ini, bahkan ada kemungkinan tidak akan ada penurunan suku bunga lebih lanjut. Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC terakhir telah memperkuat ekspektasi ini. Sebelumnya, harga emas sempat terbang tinggi ketika The Fed melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut. Namun, dengan prospek suku bunga yang tetap stabil atau bahkan naik, investasi pada instrumen berimbal hasil seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik.

Tidak hanya The Fed, bank sentral di berbagai negara juga mengubah kebijakan suku bunga mereka. Kekhawatiran akan inflasi yang dipicu oleh gangguan harga energi akibat konflik mendorong mereka untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, seperti yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia. Seperti yang diungkapkan oleh Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, "Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar." Dolar AS, yang sempat melemah, kini berangsur pulih dan indeks dolar bahkan naik hampir 2% sejak ketegangan di Timur Tengah memanas. Penguatan dolar ini secara langsung mengurangi daya tarik emas.

Euforia Investor yang Mereda dan Arah Pasar Emas

Lonjakan harga emas yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir, yang mencapai puncaknya pada US$5.000 per troy ons di bulan Januari 2026, didorong oleh euforia dan permintaan yang tinggi akan aset aman. Namun, momentum ini kini mulai mereda. Investor mungkin mulai menjual emas mereka untuk menutupi kerugian pada aset lain yang terpengaruh oleh gejolak pasar atau sekadar mengambil keuntungan setelah reli panjang.

Harga emas dunia sendiri sempat mencatat kenaikan tertinggi sejak 1979, yakni sebesar 64% pada tahun 2025. Reli yang fantastis ini mungkin telah mencapai titik jenuh. Pada Jumat lalu, harga emas bahkan turun di bawah US$4.500 per troy ons, menandai berakhirnya periode euforia logam mulia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar emas sedang mengalami rekalibrasi, menyesuaikan diri dengan realitas ekonomi global yang berubah, di mana suku bunga dan kekuatan dolar AS memainkan peran yang lebih dominan daripada sekadar ketidakpastian geopolitik.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?
  • Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?
  • Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?
  • Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?
  • Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?
  • Harga Emas Ambruk Drastis di Tengah Perang Ada Apa?

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW