Cirebon Raya Geger! Tragedi Laut hingga Wanita Jadi Korban Perdagangan Orang
Sorajabar.com - Pekan ini, Cirebon Raya (mencakup Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) kembali diwarnai beragam peristiwa yang menguras perhatian publik. Dari tragedi memilukan di lautan, skandal perdagangan orang yang meresahkan, polemik program pangan, hingga fenomena alam yang tak terduga. Sorajabar.com telah merangkumnya untuk Anda, memastikan setiap pembaca tetap terinformasi tentang dinamika yang terjadi di wilayah Jawa Barat.
Tragedi Laut Indramayu: KM Almujib Karam, 2 Meninggal, 4 Hilang Dihantam Tongkang
Kabar duka datang dari perairan utara Indramayu. Sebuah kapal nelayan, KM Almujib (6 GT), tenggelam setelah dihantam kapal tongkang misterius di sekitar Pulau Rakit atau Pulau Biawak pada Sabtu (28/2) malam. Insiden mengerikan ini mengakibatkan dua Anak Buah Kapal (ABK) meninggal dunia, empat lainnya dinyatakan hilang, sementara dua ABK berhasil selamat dari maut.
Menurut Kasat Polairud Polres Indramayu, AKP Asep Suryana, KM Almujib berlayar dengan delapan ABK yang dinakhodai Jupri Priyanto, berangkat dari Pelabuhan Karangsong. Saat para ABK beristirahat dengan mesin kapal mati, sebuah tongkang bernomor lambung 3009 tiba-tiba menabrak lambung kiri kapal. Benturan keras itu menyeret KM Almujib selama 10 menit, menyebabkan lambung bocor dan kapal karam.
Dalam kegelapan malam, para nelayan berjuang menyelamatkan diri dengan berpegangan pada jeriken dan gabus. Carudin (48) dan Alfianto Agus Sulistiyo (20) adalah dua ABK yang beruntung ditemukan selamat setelah terombang-ambing di laut semalaman. Namun, Jupri alias Kempot (35) dan Wandi (39) ditemukan tak bernyawa. Empat nelayan lainnya, Ari Wibowo (23), Asep Agustina (24), Mas'ud (38), dan Ono (50), masih dalam pencarian. Operasi SAR pun terus digencarkan untuk menemukan mereka yang hilang, dan kepolisian berkoordinasi dengan keluarga korban serta saksi untuk mengungkap penyebab pasti insiden tragis ini.
Jeritan Korban 'Pengantin Pesanan' di Cirebon: Modus TPPO Baru Terkuak
Kabupaten Cirebon dihebohkan dengan dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) berkedok "pengantin pesanan". Seorang wanita muda berinisial V (20) dilaporkan menjadi korban setelah diberangkatkan ke China untuk dinikahkan dengan warga negara asing (WNA). Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cirebon mengonfirmasi telah menerima dua laporan serupa, yang menunjukkan modus baru dalam praktik ilegal ini.
Kepala Disnaker Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, menjelaskan bahwa kasus ini tidak berada dalam ranah kewenangan Disnaker secara langsung, karena tidak terkait dengan penempatan tenaga kerja resmi. Namun, karena melibatkan keberangkatan warga ke luar negeri, Disnaker tetap berkoordinasi lintas instansi. Modusnya cukup licik: terduga pelaku langsung mendatangi korban dan keluarganya, menawarkan janji pernikahan dengan WNA dan kehidupan yang lebih baik di luar negeri, tanpa melalui prosedur resmi negara maupun sepengetahuan pemerintah desa. Praktik semacam ini sangat berisiko tinggi terhadap eksploitasi, kekerasan fisik, dan psikis. Masyarakat diimbau untuk sangat berhati-hati dan tidak mudah tergiur janji manis yang tidak masuk akal.
Polemik Program Makan Bergizi Gratis di Majalengka: SD Tolak Paket Makanan Bermasalah
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya membawa manfaat justru menuai polemik di Majalengka. Sebuah SD di Desa Sutawangi, Jatiwangi, Majalengka, mengambil langkah tegas dengan mengembalikan paket MBG yang dikirim pada Rabu (4/3/2026). Keputusan ini diambil menyusul keluhan berulang dari siswa dan orang tua terkait kualitas dan porsi makanan selama bulan Ramadan.
Feri Apriyadi, salah seorang guru di sekolah tersebut, mengungkapkan bahwa keluhan sudah muncul sejak awal Ramadan, terutama soal kualitas makanan yang menurun saat waktu berbuka tiba. "Ada nugget yang sudah tidak fresh, berbau. Ada puding yang sudah mencair," ujarnya, menyoroti jarak antara waktu memasak dan konsumsi yang terlalu lama. Selain itu, porsi makanan juga dipersoalkan karena dianggap seragam dari kelas 1 hingga 6 SD, padahal seharusnya ada perbedaan anggaran dan jumlah item menu. Tiga SD lainnya di desa yang sama juga ikut menolak paket MBG, menuntut adanya evaluasi dan perbaikan agar makanan yang diterima anak-anak benar-benar layak dan bergizi.
Petaka Gegara Balita Main Korek Api di Kuningan: Rumah Nyaris Ludes, Ayah Korban Luka Bakar
Suasana tenang di Desa Maniskidul, Jalaksana, Kuningan, mendadak mencekam pada Kamis (5/3/2026) pagi. Rumah milik Asih (52) nyaris ludes terbakar akibat ulah sang cucu yang masih balita, R (3), yang bermain korek api. Percikan api dengan cepat menyambar tumpukan pakaian di dekat sofa, lalu merambat ke perabotan lainnya. Melihat api yang membesar, anak Asih, Abi, segera berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, ia malah terkena semburan api dan mengalami luka bakar di pipi kiri.
Abi yang terluka segera menghubungi UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan. Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma, membenarkan insiden ini. Beruntung, saat petugas tiba, api sudah berhasil dipadamkan oleh warga dan pemilik rumah. Petugas kemudian melakukan pendinginan dan edukasi. Akibat kejadian ini, tumpukan pakaian, jok kursi, lemari plastik, hingga meja televisi hangus. Abi yang mengalami luka bakar serius segera dilarikan ke RS Mandala Linggarjati. Insiden ini menjadi pengingat pentingnya mengawasi balita saat bermain dan menjauhkan benda berbahaya seperti korek api dari jangkauan mereka.
Fenomena Langka Hujan Es Guyur Kuningan, Warga Diminta Waspada
Selain insiden kebakaran, Kuningan juga dilanda fenomena alam langka, yaitu hujan es. Pada Kamis (5/3/2026) sore, sekitar pukul 15.00 WIB, butiran-butiran es mengguyur Desa Ciporang, Maleber, dan Desa Cinagara, Lebakwangi. Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan butiran es kecil menyertai hujan deras.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, mengonfirmasi kejadian tersebut, namun syukurlah belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa. Indra menjelaskan bahwa hujan es dipicu oleh awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi, menyebabkan butiran air membeku di lapisan atmosfer atas dan jatuh sebelum mencair. Fenomena ini bersifat lokal, berlangsung singkat, dan sering disertai hujan lebat serta angin kencang.
BPBD Kuningan mengimbau masyarakat untuk waspada, terutama di masa transisi musim. Beberapa indikasi sebelum hujan es adalah suhu terik, awan putih yang cepat menghitam, dan angin kencang mendadak. Masyarakat disarankan untuk memperbarui informasi cuaca dari BMKG dan segera berlindung jika hujan es terjadi guna menghindari kerusakan maupun cedera fisik.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar