x
Game Controller
SEASON 5
BATTLE
PASS OPEN!
JOIN NOW ▶

China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut

Sorajabar.com - Gejolak di Timur Tengah kembali memanas menyusul penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Penunjukan ini terjadi setelah wafatnya sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dunia menanti reaksi, dan China, sebagai mitra strategis Iran, tak tinggal diam.

Pemerintah China secara resmi menyatakan sikapnya terkait suksesi kepemimpinan di Iran. Beijing menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba Khamenei merupakan urusan domestik Iran dan menentang keras segala bentuk campur tangan asing atau upaya untuk menargetkan pemimpin baru tersebut. Sikap ini muncul di tengah ancaman militer Israel yang menargetkan setiap pengganti pemimpin tertinggi Iran, menambah kompleksitas dinamika Geopolitik kawasan.

Sikap Diplomatik China di Tengah Ketegangan Regional

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, dalam pernyataannya, menggarisbawahi bahwa keputusan Iran untuk menunjuk putra Khamenei didasarkan pada konstitusi negara tersebut. China, melalui Guo Jiakun, secara tegas menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apapun. Pernyataan ini sekaligus menekankan pentingnya menghormati kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran.

Sikap China ini menjadi sorotan mengingat klaim Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menganggap Mojtaba Khamenei sebagai “tokoh yang tidak berpengaruh” dan bersikeras agar AS memiliki suara dalam penunjukan pemimpin Iran yang baru. Hal ini menunjukkan kontras yang jelas antara pendekatan Washington dan Beijing terhadap kedaulatan Iran dan proses suksesi kepemimpinannya.

Sebagai mitra dekat Teheran, China sebelumnya telah mengutuk pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei. Namun, Beijing juga tidak ragu mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk, menunjukkan upaya menjaga keseimbangan dalam diplomasi regionalnya. Posisi ini mencerminkan keinginan China untuk mempromosikan stabilitas di Timur Tengah, sebuah kawasan yang vital bagi kepentingan energi dan perdagangan global.

Panggilan Mendesak China untuk De-eskalasi Konflik

Utusan China untuk Timur Tengah, Zhai Jun, dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan, baru-baru ini menyerukan de-eskalasi segera. Dalam dialog tersebut, Zhai Jun mendesak semua pihak untuk menghentikan operasi militer, mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut, dan menghindari kerugian yang lebih besar bagi rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Ini menunjukkan kekhawatiran serius China terhadap potensi perluasan konflik.

Senada dengan Zhai Jun, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, juga menekankan bahwa perang "seharusnya tidak pernah terjadi" dan menyerukan diakhirinya pertempuran. Pernyataan ini memperkuat posisi China sebagai advokat perdamaian dan stabilitas di panggung internasional, khususnya di tengah krisis yang mengancam kawasan Timur Tengah. China tampaknya ingin memainkan peran konstruktif sebagai mediator atau setidaknya sebagai suara moderat yang menyerukan dialog dan penyelesaian konflik secara damai.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut
  • China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut
  • China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut
  • China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut
  • China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut
  • China Angkat Bicara Soal Pemimpin Baru Iran Pasca-Serangan Maut

Posting Komentar

x
Leaf Organic Serum
100% VEGAN

Pure
Nature
Glow

Revitalize your skin with organic essence.

SHOP NOW
X
LEARN DESIGN • MASTER CODE • BE CREATIVE • LEARN DESIGN • MASTER CODE •
Creative
LEVEL
UP!

Unlock your potential with premium online courses.

JOIN NOW
×
Movie
Ad Sponsored
Unlimited Movies & TV
Watch anywhere. Cancel anytime.
WATCH NOW