Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sorajabar.com - Gemericik air yang konstan kini menjadi "lagu" baru di bekas lokasi longsor Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Suara itu bukan sekadar gemericik biasa, melainkan berasal dari aliran air yang tak pernah ada sebelumnya, kini mengikuti jejak material longsor dari Gunung Burangrang yang terjadi pada 24 Januari 2026. Sebuah pemandangan yang menyayat hati, sekaligus menyimpan misteri alam yang perlu diungkap.

Pascabencana mengerikan yang merenggut 80 nyawa itu, kini material longsor yang mengering terhampar luas, membentang sekitar 40 meter. Di atasnya, bunga-bunga berwarna-warni dan nisan sederhana menjadi saksi bisu, menandai mereka yang masih terbaring di bawah timbunan tanah. Warga setempat, seperti Iman Rahmat, harus berjuang melintasi jalur bebatuan yang terbentuk di tengah aliran air baru itu, mencari pijakan agar motor bisa lewat tanpa terperosok. Sebuah perjuangan harian yang tak mudah.

Iman adalah salah satu dari mereka yang beruntung selamat, namun rumahnya rata dengan tanah dan sanak saudaranya turut menjadi korban. "Dulu enggak ada sungainya, sekarang setelah longsor tiba-tiba ada aliran air di tengahnya. Airnya dari gunung, mungkin mata air," kenangnya, mencoba memahami perubahan drastis di tanah kelahirannya. Trauma mendalam masih menghantuinya, terutama setiap kali hujan deras mengguyur. Hidupnya kini penuh ketidakpastian. Uang Rp5 juta dari pemerintah hanya cukup untuk dua bulan, sementara kebun sayurnya seluas 150 tumbak, yang dulu menjadi tumpuan hidup, kini lenyap tertimbun. Ia hanya bisa berharap relokasi segera terealisasi agar bisa memulai hidup baru dengan harapan yang lebih pasti.

Menguak Penyebab Longsor Cisarua Menurut PVMBG

Bencana longsor Cisarua ini bukanlah peristiwa alam biasa yang terjadi begitu saja. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Plh Kepala PVMBG Badan Geologi, Edi Slameto, telah melakukan investigasi mendalam. Hasilnya mengejutkan: longsor mematikan ini merupakan "hasil kolaborasi" dari serangkaian faktor geologi, morfologi, hidrologi, hingga jejak alam lama berupa bekas aliran sungai yang kembali "diaktifkan" oleh limpasan material longsor. Sebuah penjelasan yang mengungkap kompleksitas bencana yang terjadi.

Tim tanggap darurat PVMBG mencatat bahwa pergerakan tanah di Cisarua dipicu oleh curah hujan ekstrem yang melanda kawasan dengan kondisi alam yang memang sangat rentan. Beberapa faktor kunci yang diidentifikasi meliputi:

  • Kondisi Morfologi Curam: Topografi area yang terjal dan tidak stabil secara alami meningkatkan risiko pergerakan tanah, membuatnya lebih mudah longsor.
  • Geologi Batuan Gunung Api Tua: Batuan di lokasi berasal dari endapan piroklastik tua Gunung Burangrang. Batuan ini telah mengalami pelapukan lanjut, membuatnya sangat rentan dan mudah kehilangan kekuatan gesernya saat jenuh air.
  • Hidrologi/Keairan: Peningkatan tekanan air pori akibat curah hujan tinggi menyebabkan tanah kehilangan daya cengkeramnya, berubah menjadi material plastis yang mudah mengalir.
  • Penggunaan Lahan: Meskipun tidak dirinci secara spesifik, aktivitas manusia dalam penggunaan lahan juga turut berkontribusi, misalnya perubahan tutupan lahan.
  • Keberadaan Struktur Geologi: Adanya rekahan dan sesar di bawah permukaan tanah semakin memperlemah struktur lereng, menjadikannya titik-titik rawan longsor.

Edi Slameto menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas lebih dari 220 milimeter per hari mengguyur Cisarua sebelum longsor terjadi. Kondisi ini secara drastis meningkatkan tekanan air pori, melemahkan kuat geser tanah, dan akhirnya memicu kegagalan lereng dalam skala besar. Material longsor yang bercampur dengan air kemudian membentuk aliran bahan rombakan atau debris yang bergerak mengikuti lembah, menyebar luas di area landasan bawah lereng.

"Proses longsoran berasosiasi dengan aliran material dan potensi suplai air yang sangat besar pada bagian hulu," kata Edi, menekankan betapa besarnya volume air yang terlibat dalam bencana ini. Material longsor, yang berasal dari endapan piroklastik Gunung Burangrang yang telah lapuk, menjadi sangat plastis saat jenuh air, sehingga mudah mengalir dan menuruni lereng dengan daya rusak yang besar.

Meskipun curah hujan ekstrem adalah pemicu utamanya, PVMBG menegaskan bahwa longsor Cisarua adalah hasil dari multifaktor. "Penyebab Longsor Cisarua ini multifaktor, gak ada faktor tunggal di sini. Batuan yang sudah lapuk, lereng curam, curah hujan tinggi dan tata guna lahan, itu yang menyebabkan semua ini terjadi," tegas Edi. Ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya memahami interaksi kompleks antara alam dan aktivitas manusia. Tanpa salah satu faktor tersebut, mungkin skala bencana tidak akan sebesar ini.

Kisah Cisarua adalah pengingat pahit akan kekuatan alam dan kerapuhan kehidupan. Bagi para penyintas, perjuangan masih jauh dari usai. Harapan akan pemulihan dan masa depan yang lebih baik menjadi penguat di tengah duka mendalam. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan dapat terus memberikan perhatian serius terhadap penanganan pasca-bencana, memastikan relokasi berjalan lancar, dan menyediakan dukungan bagi mereka yang kehilangan segalanya agar bisa bangkit kembali.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya
  • Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya
  • Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya
  • Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya
  • Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya
  • Tragedi Cisarua Sungai Baru Muncul Ini Penjelasan Ilmiahnya

Posting Komentar