Tasikmalaya Kota Santri dan Misteri Freemasonry di Baliknya
Sorajabar.com - Tasikmalaya, sebuah kota di Jawa Barat yang kental dengan julukan Kota Santri, selalu identik dengan narasi religiusitas pesantren dan budaya Islam yang kuat. Namun, siapa sangka, di balik citra yang mapan itu, tersimpan selembar Sejarah yang mungkin mengejutkan banyak pihak: jejak eksistensi organisasi rahasia Freemasonry.
Bayangkan, di tengah kekentalan tradisi keagamaan, sebuah organisasi yang sering dikaitkan dengan agenda sekularisme dan pergerakan di balik layar pernah beroperasi, bahkan melibatkan para elit lokal atau priyayi. Penemuan ini tentu saja memicu rasa penasaran tentang bagaimana organisasi ini bisa menembus hingga ke jantung wilayah yang dikenal agamis tersebut.
Misteri di Balik Julukan Kota Santri
Penelusuran sejarah ini bukan tanpa dasar. Sebuah jurnal penelitian berjudul "Sejarah Freemasonry Di Tasikmalaya, 1902-1939", yang disusun oleh Faizal Arifin, Rahmat Mulya Nugraha, dan Taryadi pada tahun 2021, mengungkap fakta-fakta mencengangkan. Studi ini menunjukkan bahwa pengaruh organisasi Freemasonry ternyata menjangkau wilayah administratif terkecil di Hindia Belanda, termasuk Tasikmalaya, melalui keterlibatan para elit pribumi atau yang sering disebut priyayi.
Jurnal tersebut membuka tabir baru mengenai interaksi antara kekuasaan kolonial, organisasi rahasia, dan struktur masyarakat lokal di masa lampau. Ini bukan sekadar catatan kaki sejarah, melainkan sebuah narasi yang menunjukkan kompleksitas dinamika sosial-politik di masa Hindia Belanda.
Raden Somanah Soeriadiredja: Figur Kunci di Tengah Bayangan
Salah satu tokoh sentral yang namanya muncul dalam sejarah ini adalah Raden Somanah Soeriadiredja. Ia adalah seorang birokrat pribumi yang memegang posisi strategis di wilayah yang saat itu masih dikenal sebagai Afdeeling Soekapoera. Perannya yang signifikan sebagai seorang Wedana menjadikannya figur penting dalam administrasi kolonial.
Berdasarkan catatan Regeering Almanak tahun 1902, Raden Somanah mulai menjabat sebagai Wedana Distrik Tasikmalaya sejak 12 Agustus 1900. Setelah dua tahun, tepatnya pada September 1902, ia kemudian dialihkan untuk menjabat sebagai Wedana di Ciawi. Posisi-posisi ini bukanlah jabatan sembarangan; seorang Wedana memiliki pengaruh besar dalam mengatur kehidupan masyarakat lokal dan menjadi penghubung utama antara pemerintah kolonial dan rakyat.
Motivasi di balik keterlibatannya pun menarik untuk dicermati. Sebagai seorang Wedana, Raden Somanah menerima upah bulanan sebesar 200 Gulden. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar pada masanya, yang secara tidak langsung mengindikasikan adanya motif ekonomi yang kuat di balik loyalitas para elit priyayi terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Kesejahteraan finansial yang dijamin oleh kolonial menjadi daya tarik yang sulit ditolak.
Fakta bergabungnya Raden Somanah dengan Freemasonry diperkuat oleh sebuah surat laporan kegiatan loji di Bandung, yang ditulis oleh R.B.M pada 14 Januari 1901. Surat tersebut mencatat bahwa Raden Somanah resmi diterima sebagai anggota Freemason di Loji 'St Jan' Bandung pada 12 Januari 1901. Ia dilantik bersama tujuh kandidat lainnya, termasuk kerabatnya, Raden Toemenggoeng Salmon Salam Soerjadiningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Majalengka. Prosesi pelantikan yang melibatkan figur-figur penting menunjukkan betapa strategisnya perekrutan ini bagi organisasi.
Strategi Kolonialisme Melalui Freemasonry
Kehadiran Raden Somanah dalam organisasi ini bukan sekadar keanggotaan biasa. Freemasonry secara cerdik menggunakan elit pribumi seperti Somanah sebagai alat “deradikalisasi” yang strategis. Dalam ritual pelantikan, pemimpin ritual (A.M) bahkan memberikan pidato khusus kepada Wedana Somanah dan Bupati Majalengka. Mereka diarahkan untuk menjalankan tugas kepemimpinan pribumi yang sejalan dengan kepentingan kolonial Belanda, seringkali melalui saran dan rekomendasi yang disisipkan oleh organisasi.
Meskipun ia bertugas di Tasikmalaya, prosesi inisiasi dan pertemuan besar Freemasonry sebagian besar dilakukan di Loji 'St Jan' Bandung, yang dikenal sebagai loji tertua dan paling berpengaruh di Jawa Barat. Ini menunjukkan sentralisasi kekuatan dan koordinasi yang rapi dari organisasi rahasia ini.
Peran sebagai seorang Freemason terbukti memberikan dampak signifikan pada karier birokrasi Raden Somanah. Ia tercatat aktif dalam struktur perbankan kolonial, yakni Soekapoera Hulp, Spaar-en Landbouweredietbank di Tasikmalaya. Keterlibatannya ini tidak hanya menegaskan pengaruhnya di sektor ekonomi lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana jaringan Freemasonry mampu menempatkan anggotanya di posisi-posisi kunci yang strategis, baik secara politik maupun ekonomi.
Masuknya para priyayi seperti Raden Somanah ke dalam organisasi rahasia Belanda ini tentu saja berdampak pada hubungan mereka dengan rakyat. Masyarakat Tasikmalaya di masa itu kemungkinan besar tidak menyadari adanya gerakan organisasi rahasia ini. Namun, indikasinya terlihat dari keberpihakan priyayi terhadap kolonial, yang kemudian mengarah pada upaya "deradikalisasi" perlawanan rakyat terhadap penjajah. Rakyat secara tidak langsung diajak untuk memaklumi kehadiran penjajah yang datang dengan dalih membawa budaya dan peradaban modern.
Misi-misi organisasi ini dibalut oleh berbagai kemasan di berbagai sektor kehidupan. Mulai dari pelajaran di sekolah, kegiatan sosial, hingga infiltrasi dalam bentuk seni dan hiburan. Ini adalah bentuk kontrol sosial yang halus namun efektif, membuat masyarakat sulit mengenali agenda tersembunyi di baliknya. Faizal Arifin menambahkan, "Kepentingan kolonial agar Freemason Bumiputera secara tidak sadar, dipengaruhi agar menerima dan berdamai dengan Kolonialisme ditunjukkan dengan mayoritas anggota loji Freemasonry didominasi oleh orang Eropa (Belanda)." Ini menegaskan bahwa priyayi pribumi, meski berpengaruh, tetap merupakan minoritas yang dimanfaatkan.
Selain Raden Somanah, terdapat tiga anggota Freemasonry lain yang tinggal di Tasikmalaya, yaitu LG Eggink, Stam, dan Onnen. Ketiganya adalah warga berkebangsaan Belanda, yang menunjukkan dominasi Eropa dalam struktur organisasi tersebut di wilayah lokal.
Akhir Riwayat Organisasi Rahasia di Bumi Pertiwi
Kisah tentang Freemasonry di Indonesia akhirnya berakhir pada awal dekade 1960-an. Presiden Soekarno, dengan ketegasannya, mengeluarkan larangan terkait aktivitas organisasi ini. Semua loji di seluruh Indonesia dilarang menggelar aktivitas yang berhubungan dengan organisasi rahasia tersebut, menandai berakhirnya era pengaruh Freemasonry di bumi pertiwi.
Penemuan jejak Freemasonry di Tasikmalaya ini membuka mata kita bahwa sejarah sebuah kota selalu lebih kompleks dari apa yang terlihat di permukaan. Ada banyak lapisan narasi yang menunggu untuk diungkap, memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang masa lalu kita.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar