Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah

Sorajabar.com - Jalan Cihapit, Bandung, adalah sebuah kanvas hidup yang terus berubah. Dari dulunya identik dengan pedagang barang bekas dan barang antik, kini ruas jalan ini menjelma menjadi magnet kuliner modern dengan deretan kafe dan restoran kekinian yang menjulang. Namun, di tengah hiruk-pikuk transformasi tersebut, sebuah toko lawas tetap tegak berdiri, menolak untuk larut dalam arus zaman. Toko kaset pita milik Sukiman adalah saksi bisu, penjaga memori audio yang tak tergantikan, menawarkan sepotong nostalgia di tengah gemerlap Gaya Hidup urban.

Transformasi Cihapit: Dari Pusat Barang Antik ke Destinasi Kuliner

Sebelum Cihapit dikenal sebagai surganya kuliner, kawasan ini adalah 'harta karun' bagi para pemburu barang bekas dan kolektor barang antik. Dari pakaian bekas, perabot jadul, hingga elektronik lawas, semuanya bisa ditemukan di sini. Pemandangan gerobak dan lapak sederhana adalah hal lazim. Namun, seiring berjalannya waktu, lahan-lahan di sekitar Cihapit mulai beralih fungsi. Bangunan-bangunan megah bermunculan, membawa nuansa modern yang kontras dengan identitas lamanya. Cihapit kini ramai dikunjungi anak muda dan keluarga yang mencari pengalaman kuliner unik, dengan harga yang tentu saja tidak semurah dulu.

Di tengah perubahan drastis ini, toko kaset Sukiman tetap setia di posnya. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap Cihapit sejak tahun 1999, merekam setiap jejak perubahan yang terjadi di hadapannya. Setiap hari, dengan telaten ia menyusun koleksi kasetnya, iringan tembang kenangan mengalun merdu dari tape recorder lamanya, seolah menjadi penawar rindu akan masa lalu.

Sukiman, Sang Penjaga Memori Audio Fisik

Bagi sebagian besar orang, kaset pita mungkin sudah menjadi relik masa lalu yang terlupakan, tergantikan oleh era digital streaming yang serba praktis. Namun, bagi Sukiman, kaset adalah warisan yang tak ternilai. Ia mengakui kesulitan yang semakin meningkat dalam memenuhi permintaan pelanggan yang mencari kaset-kaset tertentu. "Sekarang lumayan susah, kadang-kadang ada orang yang datang ke sini mencari kaset tapi tidak ada di sini. Biasanya orang yang pengin koleksi, tapi ada juga yang hanya ingin dengar lagunya saja," ujar Sukiman.

Dulu, Sukiman hanya perlu menunggu stok datang. Kini, perburuan kaset ibarat mencari 'harta karun' yang semakin langka. Seiring berhentinya produksi kaset oleh industri Musik, ketersediaan benda fisik ini semakin terbatas. Ia seringkali harus berburu di pasar daring atau menghubungi sesama kolektor untuk mendapatkan kaset yang diminta pelanggan. "Kalau dulu kita tinggal jemput bola, tetapi sekarang susah. Apalagi kalau musisi-musisi luar negeri, biasanya sudah enggak. Saya kesusahan kalau ada orang yang request kaset yang tidak ada di sini. Ya mau gimana lagi, memang sudah sulit dicari," keluhnya.

Kaset: Media Nostalgia untuk Berbagai Generasi

Pembeli kaset di toko Sukiman datang dari berbagai latar belakang, namun mayoritas adalah Generasi X dan Baby Boomer yang ingin bernostalgia. Mereka datang bukan hanya untuk membeli, tetapi juga untuk menyelami kembali memori masa muda melalui alunan lagu dari kaset fisik. Kaset memang mencapai puncak popularitasnya dari pertengahan 1900-an hingga awal 2000-an. Musisi seperti Red Hot Chili Peppers dan Michael Learns to Rock sering menjadi incaran utama para pembeli karena kepopuleran abadi mereka.

"Orang-orang mencari benda fisik dari lagu-lagu dulu. Kayak misal musisi dulu yang sekarang sudah tidak aktif lagi. Berbeda dengan musisi sekarang yang tidak ada kasetnya. Dulu orang-orang mengincar kasetnya," tambah Sukiman.

Menariknya, daya tarik kaset tidak hanya terbatas pada generasi tua. Anak-anak muda yang menggandrungi tren retro kini juga sering mengunjungi toko Sukiman. Bagi mereka, kaset bukan hanya media musik, melainkan bagian dari gaya hidup dan ekspresi identitas. Musik klasik dan gaya hidup retro kembali merebak sebagai budaya populer. Anak-anak muda ini kerap mencari rilisan musisi British Pop legendaris seperti Oasis dan The Beatles.

"Anak-anak muda biasanya cari lagu British pop atau slow rock kayak gini. Kayak kaset ini, Oasis sering didengar anak muda atau The Verve memang populer di anak-anak muda. Lagunya sampai sekarang diputar di mana-mana," ungkap Sukiman, menunjukkan salah satu koleksinya.

Kaset Tetap Hidup: Sebuah Harapan Abadi

Meskipun zaman terus berputar dan teknologi semakin canggih, Sukiman memiliki keyakinan teguh bahwa kaset akan selalu memiliki peminat setia. Baik dari kalangan yang ingin bernostalgia maupun generasi baru yang tertarik dengan keunikan media fisik ini. Ia memahami bahwa kaset mungkin tidak akan pernah kembali ke puncak kejayaannya seperti dulu, namun ia percaya bahwa ada ceruk pasar yang akan selalu menghargai nilai dan pengalaman mendengarkan musik secara analog.

"Kalau kayak gini memang ada peminatnya sendiri, jadi pasti bakal selalu ada. Orang-orang juga kadang nyari lagu Indonesia tahun 2000-an, peminatnya juga banyak, tetapi tidak tiap hari ada yang datang," tutup Sukiman dengan senyum optimis.

Kehadiran toko kaset Sukiman di Jalan Cihapit adalah pengingat bahwa di tengah laju modernisasi yang tak terhindarkan, selalu ada ruang untuk menghargai warisan dan kenangan dari masa lalu. Ia adalah penjaga api nostalgia, memastikan bahwa alunan melodi dari kaset pita tidak akan pernah padam sepenuhnya.

Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah
  • Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah
  • Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah
  • Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah
  • Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah
  • Saksi Bisu Cihapit Kisah Penjual Kaset Lawas di Antara Kafe Mewah

Posting Komentar