Perjuangan 30 Tahun Mang Kopral Jajakan Tahu Gejrot Legendaris
Sorajabar.com - Di tengah riuhnya Alun-Alun Kuningan yang sering diguyur hujan, ada sebuah Kisah Inspiratif yang terukir dari kegigihan seorang pedagang tahu gejrot. Sosok itu adalah Udin, atau lebih dikenal dengan sapaan akrab Mang Kopral. Dengan gerobak pikulnya yang setia bersandar di dekat jembatan penyeberangan, Mang Kopral tak pernah surut semangatnya, bahkan di bawah guyuran hujan sekalipun. Tangan cekatnya terus meracik pesanan, memotong tahu, mengulek cabai, dan menyiramkan kuah gula asam yang menggoda selera, sebuah rutinitas yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
Perjalanan Panjang Sang Legenda Tahu Gejrot
Kisah Mang Kopral bermula jauh sebelum ia menjadi ikon Kuliner di Kuningan. Pada akhir tahun 1980-an, ia mencoba peruntungannya di Bandung, menjajakan tahu gejrot khas Cirebon. Namun, nasib berkata lain. Sepinya pembeli dan kondisi keamanan yang rawan, di mana sering terjadi kehilangan, membuatnya tak bisa bertahan lama. "Sebelumnya itu di Bandung sekitar tahun 1989, paling beberapa tahun, nggak lama. Karena di sana sepi, terus banyak preman juga. Sering kehilangan," kenangnya.
Memasuki awal tahun 1990-an, tepatnya pada tahun 1993, Mang Kopral memutuskan untuk hijrah ke Kuningan. Sejak saat itu, kawasan Alun-Alun Kuningan menjadi saksi bisu perjuangannya. Ia tak hanya membawa semangat baru, tetapi juga identitas rasa autentik dari tanah kelahirannya. Tahu yang ia gunakan berasal dari sentra produksi Ciledug, Cirebon, lengkap dengan cobek hitam yang ia bakar sendiri. Cobek ini bukan sembarang cobek; pembakaran khusus inilah yang dipercaya Mang Kopral menghasilkan aroma dan cita rasa khas yang tak tertandingi.
Nama "Kopral" sendiri melekat padanya bukan tanpa sebab. "Akhirnya pindah ke Kuningan tahun 1993 sampai sekarang. Sudah 30 tahun lebih. Dinamakan Kopral kayak cukuran rambutnya pendek gini terus kayak Kopral," jelasnya sambil tertawa kecil, menunjukkan potongan rambutnya yang memang pendek dan rapi layaknya seorang kopral.
Menghadapi Badai Kehidupan dari Preman hingga Pandemi
Lebih dari tiga dekade berjualan, Mang Kopral telah melewati berbagai badai kehidupan. Masa-masa sulit, bahkan kelam, tak jarang ia rasakan. Dari ancaman preman di Bandung hingga "kejar-kejaran" dengan Satpol PP di Kuningan saat penertiban pedagang kaki lima, semua menjadi bagian dari perjalanannya. Namun, salah satu cobaan terberat datang saat pandemi COVID-19 melanda dunia.
Pembatasan mobilitas warga membuat Mang Kopral kesulitan. Ia yang harus bolak-balik dari Cirebon ke Kuningan untuk berjualan, seringkali tak bisa menjajakan dagangannya berhari-hari. "Apalagi pas COVID-19, saya kan dari Cirebon ke sana kemari orang nggak bisa lewat. Dilarang semua, jadi nggak jualan," ungkapnya dengan nada prihatin. Situasi ini tentu saja menggerus penghasilannya secara drastis, membuat dapur rumah tangganya hampir tak berasap. Untungnya, masa-masa sulit itu telah berlalu, dan kini Alun-Alun Kuningan sudah lebih tertata dan hidup kembali.
Perubahan Zaman dan Tantangan Baru di Alun-Alun Kuningan
Meski Alun-Alun Kuningan kini tampak lebih tertata dan modern, Mang Kopral punya pandangan lain. Menurutnya, keramaian pembeli justru tak seramai dulu. Ia mengenang masa-masa kejayaan saat terminal dan gedung bioskop masih berdiri kokoh di kawasan itu. Dua fasilitas publik tersebut ibarat magnet yang tak henti-hentinya menarik banyak pelanggan ke gerobak tahu gejrotnya.
"Masih enak dulu. Dulu pas masih terminal, gedung film bisa habis sampai 200 porsi, sekarang mah sudah banyak yang jualan. Harganya juga masih murah cuman Rp 2.000, sekarang mah sudah Rp 10.000," kenangnya. Perubahan zaman ini berdampak langsung pada pendapatannya. Jika dulu ratusan porsi ludes dalam sehari, kini ia harus puas dengan sekitar 50 porsi, menghasilkan omzet sekitar Rp500 ribu. Cuaca pun menjadi faktor penentu; hujan deras seperti sore itu bisa membuat penghasilannya anjlok drastis, bahkan hanya mencapai Rp25 ribu hingga Rp50 ribu dalam sehari penuh.
Warisan Rasa dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Meskipun penghasilan tak selalu menentu dan tantangan terus datang silih berganti, Mang Kopral tetap setia pada gerobak pikulnya. Baginya, tahu gejrot bukan sekadar dagangan yang ia jual, melainkan sebuah jalan hidup, sebuah warisan, dan sumber nafkah yang telah membesarkan keluarganya. Dengan cucuran keringat dan kegigihan, ia terus menyajikan cita rasa tahu gejrot khas Cirebon yang autentik, menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner Kuningan.
Dedikasi dan semangatnya pun mulai membuahkan hasil. Kini, salah satu anaknya telah memutuskan untuk mengikuti jejak sang ayah, turut serta melestarikan warisan rasa tahu gejrot Mang Kopral. Sebuah tanda bahwa semangat dan tradisi ini akan terus hidup, diteruskan oleh generasi berikutnya, memastikan bahwa tahu gejrot Mang Kopral akan tetap menjadi legenda di hati para pencinta kuliner.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar