Kisah Toko Buku Iqra Bandung Bertahan dari Gempuran Digital
Sorajabar.com - Di tengah arus deras digitalisasi yang mengikis minat baca buku fisik, sebuah oasis Literasi kecil bernama Toko Buku Iqra tetap kokoh berdiri. Berlokasi strategis di sekitar kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, toko ini menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan budaya membaca di kalangan mahasiswa. Kisah pemiliknya, Chairil Chalik, bukan sekadar tentang berjualan buku, melainkan sebuah dedikasi hidup yang patut diacungi jempol.
Pergeseran kebiasaan mahasiswa dari buku cetak ke layar ponsel menjadi tantangan serius bagi industri perbukuan. Konten digital yang serba cepat dan instan kerap membuat buku fisik terpinggirkan, padahal kedalaman dan kekayaan pengetahuan yang ditawarkan buku tak tergantikan. Namun, di tengah gempuran ini, Chairil Chalik memilih untuk tidak menyerah, menjadikan Toko Buku Iqra sebagai mercusuar harapan bagi para pecinta literasi.
Jejak Langkah Chairil Chalik: Dari Lampung ke Pusat Literasi Bandung
Kecintaan Chairil Chalik pada dunia buku bukan lahir instan. Kisahnya dimulai sejak ia duduk di bangku SMP, mengikuti jejak sang kakak merantau dari Lampung ke Jakarta. Dua tahun di ibukota, ia kemudian pindah ke Bandung, kota yang kelak menjadi saksi bisu perjalanan literasinya. Perpindahan kota dan kampus—dari Universitas Pasundan ke UIN Bandung—adalah bagian dari perjalanan panjangnya sebagai individu yang terbiasa merantau dan beradaptasi.
"Awalnya ikut kakak, karena pada masa itu perekonomiannya bagus itu di Jakarta. Saya 13 bersaudara, kakak-kakak saya yang lain sudah dari lama merantau dan ada yang sudah menetap di Jakarta," tutur Chairil, mengenang masa mudanya.
Lingkungan dan pengalamannya sebagai kontributor lepas di beberapa majalah Islam semakin memupuk minatnya pada dunia literasi. Ia menulis, membaca, dan tanpa disadari, pekerjaan itu membawanya kian dekat dengan jagat perbukuan. Dari sinilah benih keinginan untuk berjualan buku dan mendirikan perpustakaan kecil mulai tumbuh.
Perjuangan dan Adaptasi Toko Buku Iqra
Chairil sempat mencoba peruntungannya berjualan buku di kawasan Palasari, sentra buku terkenal di Bandung. Namun, kondisi saat itu tidak selalu kondusif dengan seringnya razia terhadap buku-buku yang dianggap ilegal. Kondisi ini mendorongnya untuk mencari lokasi yang lebih aman dan strategis.
"Di Palasari juga pernah, tapi udah banyak yang jualan buku. Dulu keadaannya masih tidak kondusif, buku-buku banyak disita. Saya pindah di dekat IAIN sekarang UIN Bandung, karena sambil kuliah," jelasnya.
Keputusan pindah ke Cibiru, persis di seberang kampus UIN Bandung, menjadi titik balik. Bermula dari sebuah kosan yang langsung menghadap jalan, Chairil bersama temannya membuka lapak buku kecil-kecilan. Dengan koleksi yang terbatas, mereka memutar otak agar lapak terlihat ramai dan menarik perhatian mahasiswa.
"Kalau sekarang, kan tidak banyak kayak sekarang. jadi rak bukunya disusun miring biar orang-orang lihatnya kayak banyak. Dulu itu bukan di sini (samping gang UIN Bandung), tapi di depan kampus yang sekarang jadi kantor bank," kenang Chairil.
Seiring waktu, biaya sewa ruko di pinggir jalan melonjak, memaksa Toko Buku Iqra pindah ke lokasi yang lebih masuk ke dalam gang. Area strategis depan kampus perlahan dipenuhi oleh pedagang makanan dan jajanan yang dianggap lebih menjanjikan di mata mahasiswa.
Menjaga Nyala Literasi di Tengah Badai
Minat baca yang menurun adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi Chairil. Ia menyaksikan satu per satu toko buku di sekitar kampus gulung tikar. "Di sini udah banyak yang tutup. Seperti toko buku Bintoro, susunan bukunya rapi tapi sayang tidak kuat dia (membiayai sewa ruko). Di belakang saya juga ada beberapa yang masih buka," ungkapnya.
Namun, Toko Buku Iqra berbeda. Di sini, pengunjung tidak dipaksa membeli. Mahasiswa boleh datang hanya untuk membaca, menggali ilmu dari rak-rak yang berjejer buku umum hingga kitab-kitab yang banyak dicari santri. Chairil bahkan membuka pintu donasi buku, berharap bisa terus memperkaya koleksinya dan menjaga semangat berbagi ilmu.
Bagi Chairil, yang terpenting bukan transaksi, melainkan tumbuhnya kembali budaya membaca. Meski demikian, realitas hari ini membuatnya prihatin. Mahasiswa semakin jarang berkunjung, lebih memilih jurnal daring sebagai referensi kuliah. "Sudah jarang mahasiswa berkunjung. Mahasiswa sudah tidak mau membaca buku, padahal bisa meningkatkan literasi bangsa. Saya sampai sekarang masih baca buku seperti ini (sambil menunjuk buku)," tutup Chairil, menunjukkan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap dunia literasi.
Kisah Toko Buku Iqra dan Chairil Chalik adalah pengingat bahwa di tengah arus perubahan, masih ada jiwa-jiwa gigih yang berjuang menjaga nyala api literasi. Sebuah inspirasi untuk kita semua agar tidak pernah berhenti membaca dan belajar.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar