Khatam Al-Quran Cepat di Ramadan, Ini Kata Ulama!
Sorajabar.com - Bulan suci Ramadan selalu menyalakan semangat keagamaan yang luar biasa di hati umat Muslim. Salah satu ibadah yang paling digemari adalah tadarus Al-Quran, dengan banyak yang memasang target ambisius untuk mengkhatamkan 30 juz selama sebulan penuh. Tak jarang, ada pula yang berupaya menyelesaikan bacaan Al-Quran dalam waktu yang jauh lebih singkat, bahkan sehari semalam, dengan harapan meraih pahala berlipat ganda. Semangat berlomba-lomba ini memang patut diacungi jempol, namun apakah kecepatan adalah kunci utama dalam ibadah yang mulia ini?
Fenomena khatam Al-Quran dalam hitungan jam atau sehari semalam memang sering kita dengar, terutama di masjid-masjid selama Ramadan. Bagi sebagian orang, pencapaian ini dianggap sebagai bentuk kesungguhan dan dedikasi yang tinggi. Namun, di balik semangat yang membara, para ulama memiliki pandangan yang lebih mendalam mengenai adab membaca Al-Quran. Mereka menekankan bahwa esensi membaca kitab suci tidak hanya terletak pada seberapa cepat kita menyelesaikannya, tetapi pada kualitas, pemahaman, dan penghayatan.
Mengapa Tartil Lebih Utama dari Kecepatan?
Konsep 'tartil' adalah inti dari anjuran membaca Al-Quran. Tartil berarti membaca dengan perlahan, jelas, dan penuh penghayatan, sehingga setiap huruf terucap dari makhrajnya dengan sempurna dan makna ayat dapat meresap ke dalam hati. Ini adalah cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan ditekankan oleh para ulama. Alih-alih terburu-buru mengejar target jumlah khatam, kualitas bacaan dan kedalaman tadabbur (perenungan makna) justru dinilai jauh lebih utama.
Imam Nawawi, seorang ulama besar mazhab Syafi'i dari abad ke-7 Hijriyah, dalam kitabnya 'Al-Tibyan fii Adaabi Hamlat Al-Quran', secara khusus membahas isu ini. Beliau menyampaikan bahwa para ulama terdahulu kurang menyukai praktik khatam Al-Quran dalam sehari semalam. Alasannya sangat logis: membaca terlalu cepat seringkali tidak menimbulkan pemahaman yang mendalam, padahal pemahaman adalah tujuan utama dari tadarus Al-Quran.
"Para ulama terdahulu kurang suka khatam Al-Quran dalam sehari-semalam. Dan hadits tentang (makruh-nya) ini banyak ditemukan. Di antaranya hadits sahih riwayat Abdillah bin Umar, RA: 'Rasulullah bersabda: Tidak sampai pada derajat faham, orang yang membaca Al-Quran dalam waktu kurang dari tiga (hari)'," tulis Imam Nawawi, mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan derajat hasan-sahih.
Hadits ini menjadi pengingat penting bagi kita semua. Membaca Al-Quran adalah dialog dengan Allah, dan dialog yang baik tentu membutuhkan perhatian, konsentrasi, serta upaya untuk memahami pesan yang disampaikan. Oleh karena itu, waktu tercepat yang direkomendasikan untuk mengkhatamkan Al-Quran adalah tiga hari atau lebih. Waktu yang kurang dari itu, menurut para ulama, sebaiknya dihindari.
Adab Khatam Al-Quran Para Sahabat Nabi
Lantas, berapa durasi yang ideal untuk mengkhatamkan Al-Quran? Imam Nawawi juga menyoroti kebiasaan para sahabat Nabi SAW sebagai teladan. Beliau merekomendasikan durasi satu pekan untuk mengkhatamkan 30 juz. Hal ini didasarkan pada praktik yang dilakukan oleh salah satu sahabat Nabi yang mulia, Utsman bin Affan RA.
Imam Nawawi mengutip riwayat Abu Dawud yang menjelaskan bahwa Utsman bin Affan RA, jika berkehendak mengkhatamkan Al-Quran, akan memulainya pada malam Jumat dan menyelesaikannya pada malam Kamis. Ini menunjukkan bahwa beliau secara konsisten menjaga ritme bacaan Al-Quran selama satu minggu.
Selain itu, ulama terkemuka abad ke-5 Hijriah, Abu Hamid Al-Ghazali, dalam kitab 'Ihya Ulumuddin', juga memberikan saran serupa terkait waktu khatam. Imam Ghazali menyarankan agar, jika seseorang ingin khatam pada siang hari, sebaiknya selesai pada hari Senin, baik sebelum atau sesudah salat Subuh. Sementara itu, jika ingin khatam pada malam hari, waktu yang disarankan adalah pada magrib malam Jumat atau setelahnya.
Pentingnya ritme dan kualitas bacaan ini bukan tanpa alasan. Dengan membaca secara teratur dan tidak tergesa-gesa, seorang Muslim memiliki kesempatan lebih besar untuk merenungkan ayat-ayat Allah, mengambil pelajaran, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ini adalah esensi sejati dari interaksi kita dengan kalamullah.
Semoga penjelasan dari para ulama terdahulu ini dapat menjadi panduan berharga bagi kita, terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Marilah kita jadikan momen ini untuk memperbaiki kualitas tadarus Al-Quran kita, mengedepankan tartil dan tadabbur, agar pahala dan keberkahan yang kita raih semakin berlimpah. Amin.
Ikuti terus Berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar