Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG

Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG

Sorajabar.com - Sebuah pemandangan yang memilukan sekaligus ironis terjadi di Kabupaten Sukabumi. Di tengah riuh rendah wacana program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), anak-anak SD di pelosok Desa Mekarjaya justru menyuarakan protes yang lebih mendalam. Mereka bukan menolak gizi, melainkan memohon prioritas yang lebih mendasar: akses jalan yang layak. Pemandangan siswa berseragam merah putih, berjalan kaki tertatih di atas kubangan lumpur pekat di Kampung Babakan, kini menjadi simbol kegagalan infrastruktur yang menghantui masa depan pendidikan di daerah terpencil Jawa Barat. Pesan mereka sederhana namun menusuk, 'Kami Lebih Butuh Perbaikan Jalan Daripada MBG!', sebuah spanduk protes yang kini menjadi viral dan memicu diskusi publik.

Akses Pendidikan Terancam Lumpur

Kampung Babakan di Desa Mekarjaya adalah salah satu titik terpencil yang luput dari sentuhan pembangunan infrastruktur memadai. Setiap hari, puluhan siswa harus bertaruh nyawa dan kesehatan hanya untuk mencapai gerbang sekolah. Jalanan yang menghubungkan permukiman warga dan fasilitas pendidikan berubah menjadi sungai lumpur setiap kali hujan turun. Kondisi ini bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi secara langsung mengancam kelangsungan proses belajar mengajar. Banyak anak yang terpaksa bolos sekolah karena sepatu mereka tersangkut, seragam kotor, atau bahkan mengalami cedera akibat terpeleset di jalan licin.

Menurut keterangan warga setempat, masalah jalan rusak ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi konkret. Mereka merasa pemerintah daerah lebih fokus pada program-program besar yang bersifat ‘populis’ daripada menangani kebutuhan dasar masyarakat di tingkat paling bawah. “Bagaimana kami bisa fokus belajar dan bergizi, jika untuk sampai ke sekolah saja kami harus berjuang melawan lumpur? Ini bukan cuma soal lelah, tapi ini bahaya,” ujar salah satu orang tua siswa yang khawatir dengan keselamatan anaknya.

Jalan yang seharusnya menjadi penghubung ekonomi dan pendidikan kini menjadi pemisah. Transportasi hasil bumi terhambat, biaya logistik membengkak, dan yang paling parah, semangat belajar anak-anak tergerus oleh kesulitan akses. Poster yang dipasang para siswa tersebut, yang ditancapkan di bawah pohon jati, adalah bentuk keberanian mereka menyuarakan kepedihan yang selama ini terpendam. Mereka tidak menggunakan media sosial yang canggih; mereka menggunakan media paling jujur: protes langsung di lokasi penderitaan mereka.

Prioritas yang Terbalik

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), meskipun memiliki tujuan mulia untuk mengatasi stunting dan meningkatkan nutrisi, terasa tidak relevan bagi masyarakat yang infrastruktur dasarnya hancur. Bagi warga Kampung Babakan, nutrisi akan sia-sia jika anak-anak tidak bisa mengakses sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Jeritan ini merupakan kritik tajam terhadap alokasi anggaran dan penetapan prioritas pembangunan oleh pemangku kebijakan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bersama Pemerintah Kabupaten Sukabumi, didesak untuk segera mengambil langkah taktis. Perbaikan jalan di daerah terpencil seharusnya menjadi Agenda Prioritas Pertama (APP), bahkan sebelum inisiatif gizi. Jalan yang mulus bukan hanya mempermudah akses ke sekolah, tetapi juga memastikan distribusi logistik kesehatan, meningkatkan kualitas hidup, dan memicu pertumbuhan ekonomi lokal. Ironi ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di perkotaan atau daerah yang mudah dijangkau, melainkan harus merata hingga ke pelosok paling jauh.

Kisah di Mekarjaya ini mengingatkan semua pihak bahwa pembangunan berkelanjutan harus dimulai dari fondasi: infrastruktur dasar yang kuat dan andal. Poster yang dibentangkan oleh anak-anak SD tersebut telah menjadi cerminan bahwa kebijakan publik harus sensitif terhadap kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Mereka berharap, setelah pesan ini mencuat, pihak terkait akan segera mengalihkan fokus dan sumber daya untuk memperbaiki jalan yang rusak parah tersebut, sehingga para siswa dapat kembali bersekolah dengan aman dan nyaman tanpa harus berlumuran lumpur tebal setiap pagi. Perbaikan infrastruktur adalah investasi nyata bagi masa depan generasi Sukabumi.

Saat ini, masyarakat menunggu realisasi janji pemerintah. Bukan sekadar janji untuk membagikan makanan, tetapi janji untuk menyediakan hak dasar warga negara: infrastruktur yang mendukung kehidupan yang layak.

Kisah perjuangan siswa SD di Kampung Babakan, Sukabumi, ini adalah panggilan darurat bagi pemerintah untuk meninjau kembali prioritas pembangunan. Akses jalan yang aman dan berfungsi adalah hak, bukan kemewahan. Pendidikan tidak akan optimal jika jalannya dipenuhi rintangan lumpur.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG
  • Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG
  • Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG
  • Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG
  • Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG
  • Jeritan Hati Pelosok Sukabumi Siswa SD Lebih Pilih Jalan Mulus Daripada Program MBG

Posting Komentar