Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu

Sorajabar.com - Ketika bulan suci Ramadan tiba, ada satu sosok yang selalu dinantikan dan dirindukan warga Ciamis. Bukan hanya deretan takjil yang menggoda selera, melainkan sebuah ikon legendaris yang berdiri gagah di Alun-alun Ciamis, bergoyang pelan seolah menabuh beduk, diiringi lantunan selawat. Dialah Boneka Haji Geyot, sang penanda Ramadan yang telah menemani generasi demi generasi di tatar Galuh.

Sejak 1 Ramadan 1447 H/2026 M ini, Haji Geyot kembali menyapa, memancarkan pesona khasnya di sisi Jalan Ir H Juanda, Alun-alun Ciamis. Mengenakan busana muslim berwarna ungu yang mencolok, kehadirannya seolah menjadi magnet bagi siapa saja yang melintas, terutama anak-anak. Mereka mengerubungi sang boneka, terpukau dengan gerakannya, tak sedikit pula yang mengabadikan momen dengan berswafoto bersama ikon kebanggaan Ciamis ini.

Haji Geyot Bukan Sekadar Boneka, Ini Maknanya!

Mungkin banyak yang bertanya, dari mana asal nama 'Haji Geyot'? Nama unik ini ternyata terinspirasi dari gerakan khas pinggul boneka yang selalu bergoyang, atau dalam bahasa Sunda disebut 'ngageyot'. Dari celetukan spontan warga yang melihatnya pertama kali, nama Haji Geyot melekat erat dan terus lestari, menjadi identitas yang dikenal luas hingga saat ini. Kehadirannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual ngabuburit sore di Ciamis.

Bagi sebagian warga, melihat Haji Geyot berarti merasakan atmosfer Ramadan yang sesungguhnya. Ia bukan sekadar hiasan musiman, melainkan sebuah simbol yang membangkitkan nostalgia, kenangan masa kecil, dan keceriaan menyambut waktu berbuka puasa. Boneka setinggi kurang lebih dua meter ini menjadi pembeda, mengubah suasana Alun-alun Ciamis dari hari biasa menjadi lebih semarak dan bernuansa islami selama bulan puasa.

Perjalanan Sejarah Sang Ikon Ramadan Ciamis

Kisah Haji Geyot dimulai pada Ramadan tahun 2000. Saat itu, boneka beserta beduknya merupakan bantuan dari salah satu perusahaan rokok nasional yang bertujuan untuk memeriahkan bulan puasa di Ciamis. Proses penempatannya pun tak main-main, melibatkan kebijakan daerah. Yasmin Sambas, yang kala itu menjabat Kabid Permukiman Perkotaan Kimprasda Ciamis, mendapat instruksi langsung dari Kepala Dinas Kimprasda Asep Suparman atas perintah Bupati Ciamis Engkon Komara. Setelah melalui berbagai pertimbangan, Alun-alun Ciamis akhirnya dipilih sebagai lokasi paling strategis, di mana sang ikon bisa disaksikan oleh banyak orang.

Sejak saat itu, Haji Geyot hampir selalu menempati lokasi yang sama setiap Ramadan. Hanya sekali ia bergeser, yaitu pada tahun 2023 saat kawasan Alun-alun Ciamis mengalami revitalisasi besar-besaran. Awalnya, pemerintah daerah hanya menerima unit boneka dan beduk. Panggung penyangganya kemudian dibuat khusus oleh Pemkab Ciamis untuk memastikan keberadaan Haji Geyot kokoh dan aman. Seiring waktu berjalan, busana Haji Geyot pun terus diperbarui, hingga kini identik dengan warna ungu yang menjadi salah satu ciri khas daerah Ciamis.

Namun, perjalanan Haji Geyot tidak selalu mulus. Ia pernah absen sekali pada Ramadan tahun 2006. Kala itu, dinamo penggeraknya mengalami kerusakan, sehingga Haji Geyot tidak dapat beroperasi dan menyapa warga. Untungnya, momen tersebut menjadi satu-satunya catatan absennya. Setelahnya, pemerintah daerah rutin melakukan perawatan dan perbaikan agar ikon kesayangan ini tetap bisa tampil memukau setiap tahun, menjaga tradisi dan semangat Ramadan di Ciamis.

Haji Geyot Membawa Memori dan Keceriaan

Kehadiran Haji Geyot adalah sebuah warisan Budaya tak benda yang terus hidup dalam ingatan warga Ciamis. Maryana (31), seorang ibu dari Imbanagara Raya Ciamis, mengungkapkan perasaannya. Ia sengaja datang ke Alun-alun bersama buah hatinya yang berusia 5 tahun, ingin berbagi memori masa kecilnya.

  • "Dari saya kecil sampai sekarang punya anak, setiap Ramadan boneka Haji Geyot selalu hadir di Alun-alun Ciamis," kenang Maryana.
  • "Adanya Haji Geyot ini menjadi penanda bulan puasa, suasana Alun-alun Ciamis juga jadi beda dari hari-hari biasa."

Pengalaman Maryana merefleksikan bagaimana Haji Geyot bukan sekadar pajangan. Ia adalah jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara kenangan masa kecil dan keceriaan generasi baru. Sosoknya yang sederhana namun penuh makna ini telah menjadi bagian integral dari identitas Ramadan di Ciamis, membawa senyum dan tawa bagi siapa saja yang melihatnya.

Boneka Haji Geyot adalah lebih dari sekadar ikon. Ia adalah penjaga tradisi, pembawa nostalgia, dan penanda suka cita Ramadan yang tak lekang oleh waktu di Ciamis. Keberadaannya menguatkan ikatan komunitas dan memperkaya khazanah budaya lokal. Semoga Haji Geyot terus "ngageyot" dan menyemarakkan Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu
  • Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu
  • Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu
  • Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu
  • Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu
  • Haji Geyot Ciamis Ikon Ramadan Tak Lekang Waktu

Posting Komentar