Berkah Ramadan! Kisah Nana Perajin Kolang Kaling Omzet Melejit
Sorajabar.com - Bulan suci Ramadan selalu membawa berkah tersendiri bagi umat Muslim, tak terkecuali bagi para pelaku usaha kecil di Jawa Barat. Salah satunya adalah Nana Priatna (52), seorang perajin kolang-kaling asal Desa Bojongsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Setiap Ramadan tiba, usaha kolang-kalingnya mengalami peningkatan pesanan yang luar biasa, mengubah rutinitas harian menjadi musim panen rezeki.
Jika di hari biasa Nana harus bersusah payah menjajakan dagangannya ke pasar, selama bulan puasa ini situasinya berbalik 180 derajat. Ia tak perlu lagi keliling. Para pedagang takjil dan pengepul justru yang berdatangan ke rumahnya, berebut untuk mendapatkan pasokan kolang-kaling berkualitas dari tangan terampil Nana. Keahliannya mengolah buah aren menjadi kolang-kaling yang kenyal dan segar sudah diakui puluhan tahun, menjadikannya salah satu produsen paling dicari di wilayah tersebut.
Musim Berkah, Pesanan Kolang-Kaling Membludak
Lonjakan permintaan ini bukan isapan jempol belaka. Di hari-hari biasa, produksi kolang-kaling Nana hanya berkisar 20 kilogram per hari. Namun, memasuki Ramadan, angka tersebut melonjak drastis hingga mencapai 50 kilogram per hari! Tentu saja, volume produksi sebesar ini tidak bisa ditangani sendiri. Nana sigap melibatkan anggota keluarga dan tetangga sekitar untuk menjadi pekerja lepas, membantu mengolah tumpukan buah aren yang datang.
"Setiap Ramadan saya pasti meminta bantuan keluarga dekat dan tetangga untuk menjadi pekerja lepas. Proses pengolahan dalam skala besar memerlukan tenaga tambahan," ujar Nana, menjelaskan bagaimana ia mengatur produksi di tengah lonjakan pesanan.
Selain volume produksi, keuntungan yang diraup Nana juga ikut melonjak. Jika biasanya kolang-kaling dibanderol Rp 8.000 per kilogram, kini harganya naik menjadi Rp 10.000 per kilogram. Kenaikan harga ini wajar mengingat tingginya permintaan dan upaya ekstra yang dikeluarkan untuk memenuhi pasar.
Rahasia Dapur di Balik Lezatnya Kolang-Kaling Khas Nana
Proses pembuatan kolang-kaling oleh Nana bukanlah pekerjaan instan. Dibutuhkan ketelatenan dan pengalaman puluhan tahun untuk menghasilkan kolang-kaling dengan tekstur sempurna. Berikut adalah tahapan yang dilalui:
- Pemilihan Buah Aren: Langkah pertama dan krusial adalah memilih buah aren yang matang dan berkualitas tinggi.
- Pengupasan Kulit: Buah aren kemudian dikupas kulit luarnya dengan hati-hati.
- Pembersihan: Setelah dikupas, biji buah aren dibersihkan dari sisa-sisa serat.
- Perebusan: Biji aren direbus hingga matang sempurna, ini adalah kunci untuk tekstur kenyal.
- Perendaman: Setelah direbus, buah aren direndam dalam air hangat selama beberapa waktu.
- Penirisan: Proses terakhir adalah penirisan yang memakan waktu cukup lama untuk memastikan kolang-kaling benar-benar kering dan memiliki tekstur yang pas.
"Bagi saya, pekerjaan ini sudah menjadi bagian dari hidup selama bertahun-tahun. Apalagi sekarang bulan Ramadan, permintaannya meningkat pesat dibanding hari biasa," tutur Nana dengan senyum.
Tantangan Bahan Baku dan Strategi Bertahan
Meski rezeki melimpah, Nana juga menghadapi tantangan serius: kelangkaan pohon aren. Wilayah Pangandaran kini semakin sulit menemukan pohon aren, yang berarti bahan baku utama menjadi langka dan mahal. Jika sebelumnya satu pohon aren yang bisa menghasilkan satu kuintal buah diborong seharga Rp 50.000, kini harganya melonjak dua kali lipat menjadi Rp 100.000 saat Ramadan.
"Sekarang bahan baku agak susah karena pohon aren mulai langka. Kami beli ke warga, kadang ada, kadang tidak. Kalaupun ada, harganya lumayan mahal," keluh Nana. Kelangkaan ini menuntutnya untuk lebih jeli dan proaktif dalam mencari pasokan bahan baku, terkadang harus membeli dari daerah lain atau menjalin kerja sama dengan warga yang masih memiliki pohon aren.
Jejak Kolang-Kaling Nana dari Pangandaran Hingga Cilacap
Ketekunan dan kualitas produk Nana telah membangun jaringan pelanggan yang luas. Kolang-kaling buatannya tidak hanya dipasarkan di sekitar Pangandaran, tetapi juga dikirim hingga ke Cilacap, Jawa Tengah. Jaringan distribusi yang kuat ini menjadi salah satu kunci ketahanan bisnisnya di tengah fluktuasi harga bahan baku.
Bagi Nana, bulan Ramadan bukan hanya tentang peningkatan omzet semata, tetapi juga pengingat akan pentingnya kerja keras dan rasa syukur. "Dari alam ya lumayan Kang, buat menyambung hidup. Yang penting kita mau kerja keras," pungkasnya, menunjukkan filosofi hidup yang sederhana namun penuh makna.
Kisah Nana Priatna menjadi inspirasi bagi kita semua, bahwa dengan ketekunan, keahlian, dan semangat pantang menyerah, setiap tantangan bisa diubah menjadi peluang, terutama di bulan penuh berkah seperti Ramadan ini.
Ikuti terus berita terbaru Jawa Barat hanya di Sorajabar.com
.jpg)
Posting Komentar